1. Latar Belakang Masalah
Pariwisata dan budaya Indonesia dapat dijadikan
sebagai suatu sumber industri pariwisata pendapatan negara
dari sektor non migas. Hal ini didukung oleh
potensi pariwisata alam, budaya dan peninggalan sejarah yang dimiliki Indonesia.
Sebagai penghasil devisa negara, pariwisata melalui perbaikan dan
penyempurnaan sarana dan prasarana objek wisata diharapkan mampu membuat
kunjungan wisatawan terus meningkat. Indonesia merupakan negara yang kaya akan hasil alam yang dibarengi
keindahan alam yang sangat menarik. Banyak orang dari negara luar datang ke
Indonesia untuk menikmati keindahan alam yang dalam konteks kepariwisataan
mereka datang sebagai wisatawan. Melihat
kondisi ini pemerintah mencanangkan sektor pariwisata sebagai andalan kegiatan
ekonomi setelah migas. Pengembangan sektor pariwisata dewasa ini terasa sangat
penting karena berkaitan dengan penerimaan devisa negara dan menciptakan
peluang terbukanya lapangan pekerjaan baru. Disamping itu juga untuk
memperkenalkan alam dan kebudayaan Indonesia.
Salah satu faktor pendukung pertumbuhan pariwisata di Indonesia
adalah dengan diimbangi oleh pengembangan dunia pariwisata. Keberadaan Pariwisata suatu daerah sangat mempengaruhi perkembangan kepariwisataan di
daerah tersebut. Dalam menghadapi arus wisatawan, pihak pengelola terutama Dinas Pariwisata yang terkait perlu mempersiapkan diri
sebaik mungkin, baik dari segi objek
wisata, akomodasi, transportasi serta fasilitas yang mendukung.
Provinsi Kepulauan Riau merupakan salah satu daerah tujuan wisata di
Indonesia yang mempunyai objek-objek wisata yang cukup potensial untuk
dikembangkan. Mulai diberlakukannya otonomi daerah oleh pemerintah pusat pada
awal tahun 1998, membuat pemerintah provinsi Kepulauan Riau semakin gencar
melakukan pembangunan di berbagai sektor, termasuk sektor pariwisata.
Propinsi Kepulauan Riau
dengan Ibukota Tanjung Pinang Merupakan Provinsi yang cukup berkembang dengan pesatnya. Di Provinsi Kepulauan Riau
pemerintahnya melakukan pengembangan-pengembangan
kawasan pariwisata dengan cara menarik minat investor dan memberikan kemudahan-kemudahan bagi
mereka melalui peraturan-peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah setempat.
Diharapkan dengan demikian kepariwisataan di Provinsi Kepulauan Riau dapat
berkembang dengan baik.
Pariwisata merupakan salah
satu alternatif dalam meningkatkan ekonomi di
Provinsi Kepulauan Riau, karena dengan mengembangkan
sektor ini diharapkan banyak wisatawan yang berkunjung ke Kepulauan Riau yang
dengan sendirinya akan membawa devisa untuk dibelanjakan di negeri ini dengan
mengupayakan pengembangan dan pemanfaatan potensi wisata yang dimiliki daerah
dalam wujud kekayaan alam yang indah, keragaman flora dan fauna, kemajemukan
tradisi dan seni budaya serta peninggalan sejarah dan purbakala.
Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor : 130-67
Tahun 2002 tentang pengakuan kewenangan Kabupaten/Kota Provinsi menyangkut
tentang kepariwisataan disebutkan bahwa masalah pengaturan dan pengelolaan
objek dan daya tarik wisata serta penetapan inventarisasi potensi objek dan
kawasan wisata merupakan kewenangan pemerintah daerah Kota/Kabupaten.
Salah satu kota
di Provinsi Kepulauan Riau yang sedang berkembang adalah kota Tanjung Pinang. Di kota Tanjung
pinang terdapat berbagai macam objek
wisata seperti wisata religi, wisata sejarah, wisata budaya, wisata kuliner, agro wisata dan sarana wisata. Hal ini membuat pemerintah provinsi Kepulauan Riau melalui
dinas-dinas terkait dan investor bisnis pariwisata memikirkan alternatif lain
di bidang pariwisata yaitu menjadikan Provinsi Kepulauan Riau sebagai kota
bisnis wisata di pulau Sumatera. Guna mendukung semua itu pemerintah provinsi
Kepulauan Riau bekerja sama dengan para investor membangun sarana-sarana yang
mendukung kegiatan kepariwisataan tersebut, seperti perbaikan sarana prasarana
dilokasi daerah tujuan wisata seperti hotel-hotel berbintang bertaraf
internasional serta bermacam - macam pusat pembelanjaan.
Dimana dalam konteks wilayah kota Tanjung Pinang memiliki sebuah pulau yaitu
Pulau Penyengat. Pulau Penyengat ini terletak di sebelah barat kota Tanjung Pinang. Secara astronomi Pulau Penyengat terletak pada O056’ LU dan 104029’
BT dengan panjang 2 km, lebar 1 km. Pulau Penyengat ini sering disebut dengan
istilah Pulau Maskawin karena pulau ini merupakan Maskawin Sultan Mahmudsyah
untuk Engku Puteri Raja Hamidah. Pulau Penyengat dikenal dengan nama Pulau
Penyengat Indra Sakti.
Dari sekian banyak objek wisata di kota Tanjung Pinang, yang paling
memliki nilai sejarah dan keunikan tersendiri adalah Mesjid Raya Pulau
Penyengat, untuk
mengunjungi objek wisata Masjid Raya Pulau Penyengat, hanya memerlukan waktu
sekitar 30 menit dari pusat kota dengan menggunakan kendaraan umum, atau kendaraan
pribadi dan dilanjutkan dengan perahu motor kecil (kapal pompong) karena
objek tersebut ada di seberang Pulau Tanjung Pinang, objek wisata ini biasanya ramai dikunjungi pada
saat akhir pekan atau hari libur. Wisatawan yang datang pun beragam, baik yang
dari dalam provinsi Kepulauan Riau sendiri maupun dari luar provinsi Kepulauan
Riau. Dalam hal jumlah pengunjung, dapat dikatakan setiap hari pasti ada
pengunjung tetapi tidak seperti yang diharapkan oleh pihak pengelola maupun
dari pihak pemerintah selaku pembina sarana dan prasarana kepariwisataan namun
untuk beribadah sholat tetap berjalan seperti biasanya.
Berbagai upaya untuk menjadikan Masjid Raya Pulau Penyengat sebagai
objek wisata religi di provinsi Kepulauan Riau,
telah dilakukan oleh pihak pengelola dan pemerintah daerah antara lain
melakukan promosi baik kepada wisatawan domestik maupun wisatawan internasional ini dilakukan agar tingkat kunjungan wisatawan yang datang dapat seperti yang diharapkan.
Adapun perkembangan tingkat kunjungan wisatawan yang datang ke Masjid Raya Pulau Penyengat dapat dilihat dari tabel di bawah ini :
Tabel I.1 : Perkembangan tingkat kunjungan
wisatawan yang datang ke Masjid Raya
Pulau Penyengat Tahun 2010-2013
Tahun
|
Pengunjung
|
Jumlah
|
|
Dewasa
|
Anak – anak
|
||
2010
|
143.699
|
23.177
|
166.876
|
2011
|
106.854
|
19.646
|
126.500
|
2012
|
95.932
|
15.612
|
111.544
|
2013
|
67.142
|
10.697
|
77.839
|
Jumlah
|
413.627
|
69.132
|
482.759
|
Sumber : Humas
Masjid Raya Pulau Penyengat
Dari tabel di atas dapat dilihat rata-rata tingkat
kunjungan wisatawan yang datang ke Mesjid Raya Pulau penyengat yang mana
tingkat kunjungan terus mengalami penurunan. Hal ini dikarenakan kurangnya
promosi serta kurangnya fasilitas sarana dan prasarana yang dibangun di kawasan
Mesjid raya tersebut. Dalam hal ini sangat dituntut upaya dari pemerintah
setempat khususnya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata untuk meningkatkan lagi kunjungan wisatawan. Berbagai
upaya untuk menjadikan Masjid Raya Pulau Penyengat sebagai objek wisata
unggulan di Provinsi Kepulauan Riau, telah dilakukan oleh pihak pengelola antara
lain melakukan promosi baik kepada wisatawan domestik maupun wisatawan
internasional. Bermacam promosi yang dilakukan adalah dengan mengadakan iklan
di media cetak dan media elektronik.
Dari uraian tersebut di atas maka penulis tertarik untuk mengetahui lebih
jauh mengenai promosi yang telah dilakukan oleh dinas terkait terhadap Masjid
Raya Sultan Riau Pulau Penyengat dengan mengambil judul “UPAYA DINAS
KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA MEMPROMOSIKAN
MASJID RAYA PULAU PENYENGAT SEBAGAI DAERAH TUJUAN WISATA DI TANJUNG PINANG KEPULAUAN
RIAU“.
2. Perumusan Masalah
Berdasarkan dari latar
belakang masalah maka penulis merumuskan permasalahan sebagai berikut:“ Bagaimanakah Upaya Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata
Mempromosikan Masjid
Raya Pulau
Penyengat Sebagai Daerah Tujuan Wisata Di Tanjung Pinang Kepulauan Riau?”.
3. Pembeberan Masalah
Berikut penulis sajikan pembeberan masalah ini adalah sebagai
berikut:
- Bagaimanakah upaya promosi yang dilakukan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan ke kawasan Mesjid Raya di Pulau Penyengat sebagai daerah tujuan wisata di Tanjung Pinang?
- Apa saja aspek-aspek yang diperhatikan dalam melakukan pengembangan kawasan Mesjid Raya Pulau Penyengat oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata di Tanjung Pinang?
- Apa saja hambatan-hambatan dalam mempromosikan kawasan Mesjid Raya Pulau Penyengat oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata di Tanjung Pinang?
- Apa saja potensi objek wisata di kawasan Mesjid Raya Pulau Penyengat yang dapat diunggulkan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata di Tanjung Pinang?
- Bagaimanakah persepsi wisatawan terhadap promosi wisata di Mesjid Raya Pulau Penyengat oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata di Tanjung Pinang?
4. Pembatasan Masalah
Adapun pembatasan masalah dari penelitian yang
penulis lakukan adalah sebagai berikut:
- Bagaimanakah upaya promosi yang dilakukan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan di Mesjid Raya di Pulau Penyengat sebagai daerah tujuan wisata di Tanjung Pinang?
- Apa saja potensi objek wisata di Mesjid Raya Pulau Penyengat yang dapat diunggulkan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata di Tanjung Pinang?
- Bagaimanakah persepsi wisatawan terhadap promosi wisata di Mesjid Raya di Pulau Penyengat oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata di Tanjung Pinang?
1.5. Tujuan Penelitian
Untuk memudahkan penulis, maka tujuan penelitian
yang hendak penulis capai adalah sebagai berikut:
- Untuk mengetahui upaya promosi yang dilakukan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan di Mesjid Raya Pulau Penyengat sebagai daerah tujuan wisata di Tanjunag Pinang.
- Untuk mengetahui potensi objek wisata di kawasan Mesjid Raya Pulau Penyengat yang dapat diunggulkan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata di Tanjung Pinang.
- Untuk mengetahui persepsi wisatawan terhadap promosi wisata di Mesjid Raya Pulau Penyengat oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata di Tanjung Pinang.
2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1.
Tinjauan Tentang Promosi
Menurut Himawan
Kartajaya, (2009: 10) strategi adalah konsep pemasaran diantaranya mencakup positioning, segmentasi dan targeting. Strategi
dalam pariwisata mencakup yang ditawarkan oleh DTW (Daerah Tujuan Wisata)
kepada wisatawan yang real maupun yang potensial. Penawaran dalam pariwisata
menunjukkan khasanah atraksi wisata alamiah dan buatan manusia, jasa-jasa
maupun barang-barang yang kira-kira akan menarik orang-orang untuk mengunjungi
suatu Negara tertentu. Menurut Oka A. Yoeti, (2006:237) yang mengutip pendapat
Kotler yang memperkenalkan bauran pemasaran dalam strategi untuk meningkatkan
penjualan paket wisata melalui empat-P, yaitu product, price,
place dan promotion.
Promosi adalah suatu upaya yang dilakukan untuk menyesuaikan produk
pariwisata dengan permintaan wisatawan sehingga produk menjadi lebih menarik.
(Happy Marpaung, 2002:103).
Menurut Philip Kotler (2000: 265)
mendefinisikan Marketing sebagai suatu proses sosial dan manajerial dan melalui
proses tersebut individu dan kelompok memperoleh apa yang mereka butuhkan serta
inginkan lewat penciptaan dan pertukaran timbal balik produk-produk dan nilai
dengan orang lain. Sementara menurut masyarakat
umum pemasaran hanya merupakan penjualan dan periklanan seperti melalui
surat kabar, televisi, selebaran, dan lain sebagainya.
Menurut Salah Wahab ( 1992 : 158 ) Tujuan
publikasi dan promosi adalah: publikasi terutama berkaitan dengan calon pembeli yang masih
belum dikenal. Promosi
terutama diarahkan pada calon pembeli yang sudah dikenal atau diketahui secara
pribadi. Pada setiap bidang tugas ini ada 3 tujuan yang harus di cakup :
1.
Memperkenalkan
produk wisata seluas mungkin.
2.
Menyusun
produk itu agar sedapat mungkin menarik. Dengan demikian mendorong sebanyak
mungkin orang, yang sudah mengenal produk wisata itu, untuk mencobanya.
3.
Menyampaikan
isi pesan yang menarik , tanpa harus berbohong.
Bahan promosi banyak berkaitan dengan
antara lain :
1)
Iklan
2)
Press release
3)
Pasar wisata
4)
Sales mission
5)
Educational tour
6)
Lobbying
2.2. Tujuan Promosi Dan Pemasaran
Oka A. Yoeti (2006:292) menyebutkan bahwa tujuan sales promotion yang penting adalah:
a.
Memperkenalkan produk baru
b.
Meningkatkan frekuensi
pemakaian
c.
Menembah persediaan agen
sebagai distributor
d.
Menarik pelanggan baru
e.
Counter terhadap aktivitas
promosi yang dilakukan para pesaing
f.
Mengaktifkan penjualan diwaktu
sepi
g.
Membantu kelancaran tugas sales
executive melakukan pendekatan kepada pelanggan.
Menurut Basu Swastha (2002: 214) pemasaran adalah suatu system keseluruhan dari
kegiatan usaha yang dirancang untuk merencanakan, menetapkan harga,
mempromosikan dan mendistribusikan barang, jasa dan ide-ide yang dapat
memuaskan keinginan pasar sasaran dalam usaha mencapai tujuan organisasi.
Dan menurut Philip Kotler (2000:378) pengertian bauran pemasaran (Marketing
Mix) adalah kombinasi dari empat variabel atau kegiatan yang merupakan inti
dari system pemasaran yakni produk, struktur harga, system distribusi dan
kegiatan promosi. Keempat unsur yang terdapat dalam kombinasi tersebut saling
berhubungan dan saling mempengaruhi. Setiap variabel yang ada masing-masing
mempunyai banyak sekali sub variabel, dengan demikian manajer harus dapat
memilih kombinasi terbaik sehingga didapat ramuan yang sesuai dengan kondisi
lingkungan. Kotler secara ringkas menguraikan masing-masing variabel marketing
mix sebagai berikut :
a.
Product (Produk): barang dan atau jasa yang ditawarkan di pasar untuk
dikonsumsi oleh konsumen. Pengolahan produk termasuk di dalamnya perencanaan
dan pengembangan produk dan atau jasa yang baik untuk dapat dipasarkan oleh
perusahaan. Beberapa elemen dari produk tadi antara lain ialah kualitas, bentuk
fisik, kemasan, merk dagang, servis, dan lain-lain.
b.
Price (harga): harga menduduki tempat yang penting karena akan menentukan
penerimaan perusahaan. Dalam menentukan harus menitikberatkan pada kemampuan
pembeli pada harga yang telah ditetapkan. Harga bukan semata-mata untuk
menutupi biaya produk dan keuntungan yang diinginkan perusahaan, tetapi yang
lebih penting akan menunjukkan persepsi konsumen terhadap suatu produk.
c.
Place (distribusi); merupakan upaya agar produk yang ditawarkan berada
pada tempat dan waktu yang tepat sesuai dengan kebutuhan konsumen dengan biaya
wajar.
Beberapa unsur yang diperlukan antara lain:
1)
saluran distribusi;
2)
jangkauan distribusi;
3)
persediaan barang;
4)
lokasi dan transportasi
d.
Promotion (promosi). Promosi merupakan salah satu variable yang penting.
Dalam pemasaran, yang merupakan suatu proses yang berlanjut. Adanya
promosi dapat membantu pihak-pihak yang terlibat dalam pemasaran untuk
memperbaiki hubungan antara pemasar dan konsumen. Variable lain disamping
keempat variable marketing mix
tersebut diatas sesuai dengan tugas dan fungsi perusahaan daerah dalam
melaksanakan bauran pemasaran masih dikenal satu variable, yakni variable
pelayanan (service). Variable ini
sangat penting karena tanpa pelayanan yang baik konsumen tidak akan merasa puas.
2.3.
Kawasan Objek Wisata
Menurut undang-undang kepariwisataan republik Indonesia no.9 Tahun
1990 Bab 1 pasal 1, yang dimaksud dengan :
a.
wisata adalah kegiatan
perjalanan atau sebagian dari kegiatan tersebut yang dilakukan secara sukarela
serta bersifat sementara untuk menikmati objek dan daya tarik wisata.
b.
wisatawan adalah orang yang
melakukan kegiatan wisata.
c.
pariwisata adalah segala
sesuatu yang berhubungan dengan wisata, termasuk pengusahaan objek dan daya
tarik wisata serta usaha-usaha terkait dibidang itu.
d.
kepariwisataan adalah segala
sesuatu yang berhubungan dengan penyelenggaraan pariwisata.
e.
usaha pariwisata adalah
kegiatan yang bertujuan menyelenggarakan jasa pariwisata atau menyediakan atau
mengusahakan objek dan daya tarik wisata, usaha sarana pariwisata, dan usaha
lain yang terkait dibidang tersebut.
f.
objek dan daya tarik wisata
adalah segala sesuatu yang menjadi sasaran wisata.
g.
kawasan pariwisata adalah
kawasan dengan luas tertentu yang dibangun atau disediakan untuk memenuhi
kebutuhan pariwisata.
Menurut M.A. Desky (2001:23) paket wisata merupakan perpaduan
beberapa produk wisata, minimal dua pokok, yang dikemas menjadi satu kesatuan
harga yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain.
Menurut Gamal Suwantoro (1997:48-49) produk wisata adalah
keseluruhan pelayanan yang diperoleh dan dirasakan atau dinikmati wisatawan
semenjak ia meninggalkan tempat
tinggalnya sampai ke daerah tujuan wisata yang telah dipilih nya dan kembali
kerumah dimana ia berangkat semula. Produk wisata juga merupakan gabungan dari beberapa komponen, antara lain :
1. Atraksi Suatu Daerah Tujuan Wisata.
2.
Fasilitas yang tersedia.
3.
Aksesbilitas ke dan dari tujuan
wisata.
Menurut Nyoman S. Pendit (1996:135) kebijakan kepariwisataan dapat dirumuskan
sebagai berikut: “segala sesuatu tindakan instansi Pemerintah dan
badan/organisasi masyarakat yang mempengaruhi kehidupan kepariwisataan itu
sendiri.”
Wisata diartikan sebagai bentuk sebuah perjalanan yang direncanakan
disusun oleh perusahaan perjalanan dengan waktu seefektif mungkin dengan menggunakan
fasilitas-fasilitas pendukung wisata lain, guna membuat peserta tour merasa
senang dan puas. (M Kesrul, 2003:3).
Selanjutnya menurut Happy Marpaung, (2002:13) wisatawan adalah orang
yang mengadakan perjalanan dari tempat kediamannya tanpa menetap ditempat yang
didatanginya, atau hanya untuk sementara waktu tinggal yang didatanginya.
Mereka dikatakan
wisatawan karena :
a.
Orang-orang yang sedang
mengadakan perjalanan untuk bersenang-senang, untuk keperluan pribadi,
kesehatan, dan sebagainya.
b.
Orang-orang yang sedang
mengadakan perjalanan untuk maksud menghadiri pertemuan, konferensi,
musyawarah, atau didalam hubungan sebagai utusan berbagai badan/organisasi
(ilmu pengetahuan, administrasi, diplomatik, olahraga, keagamaan, dan
sebagainya).
c. Orang-orang yang sedang mengadakan
perjalanan dengan maksud bisnis.
d. Pejabat pemerintah dan orang-orang militer
beserta keluarganya yang diposkan di suatu
negara lain, maka hal ini dapat digolongkan sebagai wisatawan.
Adapun jenis-jenis wisata rekreasi Menurut Nyoman. S. Pendit
(2006:41) adalah sebagai berikut:
a.
Wisata budaya
b.
Wisata kesehatan
c.
Wisata olahraga
d.
Wisata komersial
e.
Wisata industri
f.
Wisata politik
g.
Wisata konvensi
h.
Wisata sosial
i.
Wisata pertanian
j.
Wisata maritim atau bahari
k.
Wisata cagar alam
l.
Wisata buru
m.
Wisata pilgrim (religi)
n.
Wisata bulan madu
o.
Wisata petualangan
Berhasilnya suatu tempat berkembang menjadi daerah tujuan wisata sangat
tergantung pada 3 faktor utama yaitu :
1.
Atraksi,
dapat dibedakan menjadi :
a. Tempat, seperti tempat dengan iklim yang baik,
pemandangan yang indah atau tempat-tempat bersejarah
b. Kejadian peristiwa, kongres, pameran atau
peristiwa-peristiwa olah raga, festival dan sebagainya
2.
Mudah dicapai
(aksesbilitas)
Tempat tersebut dekat jaraknya, atau tersedianya
transportasi ke tempat itu secara teratur (sering), murah, aman dan nyaman.
3.
Fasilitas
Penunjang (Amenitas)
Tersedianya fasilitas-fasilitas seperti
tempat-tempat penginapan, restoran-restoran, tempat hiburan, transportasi lokal
yang memungkinkan wisatawan bepergian di tempat itu serta alat-alat komunikasi
lainnya.
Menurut Happy Marpaung
(2002:80), objek dan daya tarik wisata dapat dikategorikan kedalam 2 (dua)
kategori yaitu :
1.
Objek dan
daya tarik wisata alam, yang termasuk objek wisata alam adalah sebagai berikut
:
a. Pantai
Pantai merupakan salah satu objek dan daya
tarik wisata yang banyak diminati. Banyak kawasan wisata yang terkenal di dunia
terletak di pantai. Jenis objek dan daya tarik wisata ini erat kaitannya dengan
aktivitas seperti berjemur matahari, berenang, selancar, berjalan-jalan di tepi
pantai, mengumpul kerang, berperahu, ski air, berfoto, dan lain-lain.
b. Wisata Bahari
Termasuk wisata laut, danau dan sungai.
c. Pegunungan
Jenis objek dan daya tarik wisata
pegunungan khususnya berhubungan dengan kegiatan menikmati pemandangan,
mendaki, berkemah dan berfoto. Jenis objek dan daya tarik wisata ini termasuk
gunung berapi dan bukit-bukit dengan keunikan tertentu.
d. Daerah Liar dan Terpencil
Kadang-kadang disebut juga Primitive areas,
dimana pengunjung mencari ketenangan, lingkungan alami dengan pembangunan yang
terbatas serta masyarakat tradisional.
Ciri-ciri
dari daya tarik wisata ini antara lain :
1. Dapat memberikan privacy bagi pengunjung
2. Bebas dari keramaian lalu lintas
3. Pengembangan kawasan dan daerah sekitar yang
tradisional
4. Tersedianya jalan setapak yang memadai
5. Relatif dekat dengan masyarakat sekitar
6. Perlindungan terhadap benteng alam dan lingkungan
e. Taman dan Daerah Konservasi
Flora dan fauna yang unik dan menarik dapat
menjadi suatu objek dan daya tarik wisata yang penting, yang harus dilindungi
sebagai daerah konservasi seperti taman nasional, taman regional suaka alam,
suaka margasatwa ataupun sebagai daerah liar yang diawasi.
f.
Health Resort
Biasanya pengembangan health resort
berhubungan dengan lingkungan alam, pemandian air panas atau spa dengan air
belerang maupun air mineral merupakan salah satu jenis wisata kesehatan yang
sudah berkembang sejak zaman romawi dan sampai saat ini menjadi kegiatan yang
menarik.
2.
Objek dan
daya tarik wisata sosial budaya, yang termasuk objek wisata sosial budaya
adalah :
a. Peninggalan Sejarah Kepurbakalaan dan Monumen
Termasuk golongan budaya, monumen nasional, gedung
bersejarah, kota, desa, bangunan keagamaan seperti Gereja, kuil, candi, puri,
Masjid serta tempat-tempat bersejarah lainnya seperti penelitian bawah air,
misalnya kapal karam atau tenggelam, industry
archeology, taman-taman bersejarah.
b. Museum
Jenis objek dan daya tarik wisata ini
berhubungan dengan aspek alam dan aspek kebudayaan di suatu kawasan atau daerah
tertentu. Museum dapat dikembangkan berdasarkan pada temanya, antara lain
museum arkeologi, sejarah, etnologi, sejarah alam, seni dan kerajinan, ilmu
pengetahuan, teknologi dan industri.
c. Pola Kehidupan
Pola kehidupan dan tradisi, termasuk adat
istiadat, pakaian upacara dan kepercayaan dari suatu suku bangsa tertentu.
d. Desa Wisata
Berhubungan dengan wisatawan atau
pengunjung yang tinggal di suatu desa tradisional atau dekat dengan desa
tradisional, atau hanya untuk kunjungan singgah dimana lokasi desa wisata ini
biasanya terletak di daerah terpencil. Wisatawan atau pengunjung tidak hanya
menyaksikan kebudayaan tradisiona, tetapi biasanya ikut langsung berpartisipasi
dalam kegiatan masyarakat setempat.
e. Wisata Keagamaan, Etnis dan Nostalgia
Jenis kegiatan wisata keagamaan, etnis dan
nostalgia erat kaitannya dengan wisatawan atau pengunjung yang memiliki latar
belakang budaya, agama, etnis, dan sejarah yang sama atau hal-hal yang pernah
berhubungan dengan masa lalunya.
Adapun tujuan penyelenggaraan kepariwisataan
menurut Sri Wulandari (2001:23) adalah untuk :
- Memperkenalkan, mendayagunakan, melestarikan dan meningkatkan mutu objek dan daya tarik wisata
- Memupuk rasa cinta tanah air dan meningkatkan persahabatan antar bangsa
- Memperluas dan meratakan kesempatan berusaha dan lapangan kerja
- Meningkatkan pendapatan nasional dalam rangka meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat
- Mendorong pendayagunaan produksi nasional
Menurut Salah Wahab (1992:28), pemasaran wisata adalah proses manajemen
dimana organisasi pariwisata nasional dan/atau badan-badan usaha wisata dapat
mengidentifikasi wisata pilihannya baik yang aktual maupun potensial, dapat
berkomuniukasi dengan mereka untuk meyakinkan dan mempengaruhi kehendak,
kebutuhan, motivasi, kesukaan dan hal yang tidak disukai, serta merumuskan dan
menyesuaikan produk wisata mereka secara tepat, dengan maksud mencapai kepuasan
optimal wisatawan sehingga dengan begitu mereka dapat meraih saran-sarannya.
3.
METODOLOGI
PENELITIAN
3.1.
Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini penulis lakukan di Mesjid
Raya dan Dinas Kebudayaan dan
Pariwisata Tanjung Pinang di Jl. Merdeka No. 5 Tanjung
Pinang – Provinsi Kepulauan Riau - Indonesia, Telp (0771) 21284 Alamat E-Mail : www.visittanjungpinang.com, yang dilakukan pada bulan Januari - Juni 2013.
3.2. Populasi dan Sampel
a. Populasi
Yang menjadi populasi dalam penelitian
ini melibatkan Kepala Dinas, staff yang ada di Dinas Kebudayaan
dan Pariwisata khususnya Divisi Pengembangan
Kepariwisataan, pengurus Mesjid Raya dan wisatawan yang datang ke kawasan Mesjid Raya Pulau
Penyengat.
b. Sampel
Yang menjadi sampel dalam penelitian ini
adalah:
1.
1 orang kepala Dinas Pariwisata
2.
6 orang divisi Pengembangan Pariwisata
3.
1 orang personalia Dinas
Pariwisata
4.
1 orang pengurus Mesjid Raya
5.
30 orang wisatawan
3.3. Teknik Pengumpulan Data
a.
Wawancara
Dilakukan kepada staff Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Tanjung Pinang
Provinsi Kepulauan Riau serta bagian personalia guna
mendapatkan data tentang upaya promosi kawasan Mesjid Raya Pulau Penyengat yang dilakukan
oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Tanjung Pinang.
b. Observasi
Merupakan pengamatan langsung yang dilaksanakan selama penelitian
secara berkesinambungan yaitu pada pagi atau siang atau sore hari untuk melihat
langsung cara kerja staff Dinas Kebudayaan
dan Pariwisata, cara
penyusunan anggaran wisata dan penerapan pelaksanaan upaya promosi yang dilakukan oleh dinas.
c. Angket
Penulis melakukan penyebaran daftar pertanyaan yang telah tersusun
kepada responden untuk memperoleh data mengenai upaya promosi dan potensi serta tanggapan wisatawan terhadap kawasan Mesjid
Raya Pulau Penyengat.
d.
Study Kepustakaan
Yaitu metode pengumpulan data dengan
membaca buku-buku yang ada hubungannya dengan penelitian yang penulis lakukan.
3.4. Jenis Data
a.
Data Primer
Yaitu
data yang diperoleh dari pimpinan atau staff serta wisatawan ditempat
penulis mengadakan penelitian.
b.
Data Sekunder
Yaitu data yang di dapat dari literatur dan sumber kepustakaan yang
ada kaitannya dengan penelitian yang penulis lakukan serta hal-hal yang
bermanfaat lainnya bagi penelitian.
3.5. Analisis Data
Data yang diperoleh dari hasil observasi dan
wawancara dipilah-pilah dan diklasifikasikan menurut jenisnya dan kemudian
dianalisis serta diolah dengan menggunakan metode tabulasi terhadap data yang
terkumpul, kemudian melakukan analisis untuk mendapatkan gambaran dan disimpulkan secara nyata
yang sesuai dengan tujuan penelitian ini.
4.
PEMBAHASAN DAN HASIL PENELITIAN
4.1. Upaya promosi yang dilakukan dalam meningkatkan kunjungan wisatawan ke kawasan Mesjid Raya di Pulau Penyengat oleh Dinas Kebudayaan dan
Pariwisata di Tanjung Pinang
Promosi daerah tujuan wisata merupakan salah
satu faktor yang sangat menentukan dan menjadi bagian
penting bagi pengembangan pariwisata suatu kota. Promosi wisata di Kota Tanjung Pinang khususnya Pulau Penyengat sangat gencar dilakukan oleh Dinas Kebudayaan
dan Pariwisata Kota Tanjung
Pinang. Mengingat dunia pariwisata merupakan produk unggulan dan penyumbang terbanyak dari pendapatan asli
daerah (PAD) Kota Tanjung Pinang, maka kegiatan promosi
pariwisata Kota Tanjung Pinang masuk dalam agenda kerja dari Pemerintah Kota Tanjung Pinang. Selain
dari Pemerintah Kota Tanjung Pinang, kegiatan
promosi wisata juga dilakukan para pengelola usaha pariwisata seperti: hotel, restoran dan pengelola objek wisata.
Mesjid Raya Pulau Penyengat merupakan salah satu andalan dalam
mendukung wisata religi, sejarah dan budaya di Provinsi Kepulauan Riau
mengingat banyaknya peninggalan situs-situs di pulau ini yang bisa menjadi
objek unggulan bagi wisatawan domestik dan wisatawan internasional. Maka ada beberapa upaya yang dilakukan oleh Dinas
Kebudayaan dan
Pariwisata Tanjung Pinang dalam
mempromosikan Pulau Penyengat yaitu:
a.
Disediakannya
Pusat Informasi Pariwisata
Sejauh ini kegiatan promosi wisata yang
dilakukan di Kota Tanjung Pinang baru terbatas
pada penyediaan informasi berupa brosur, stiker dan pamflet yang
disebarluaskan di lokasi
masing-masing objek wisata. Pelaksanaan promosi wisata seperti
ini tentu saja belum efektif
karena terbatas pada masing-masing objek wisata dan belum menggambarkan potensi wisata secara keseluruhan. Pusat
promosi wisata di Kota Tanjung Pinang yang dikelola
oleh Pemerintah Kota Tanjung Pinang yang bernama Pusat Informasi Pariwisata yang lokasinya terletak di Jalan
Merdeka serta berdampingan dengan Kantor Dinas
Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjung Pinang.
b.
Diadakannya
Festival Pulau Penyengat
Festival yang digagas Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif ini
bisa menjadi momentum untuk mempromosikan Penyengat sebagai pusat kebudayaan
dan bahasa Melayu di Indonesia. Acara
Festival Pulau Penyengat ini di selenggarakan setiap akhir tahun. Salah satu alasan menyelenggarakan Festival Pulau Penyengat ini
adalah karena keunikan pulau tersebut atas berbagai peninggalan sejarah
peradaban Melayu pada masa kerajaan Riau – Lingga. Kementerian menargetkan pada 2012, festival ini diselenggarakan
lebih besar lagi dengan melibatkan peserta dari negara tetangga seperti
Singapura dan Malaysia yang juga memiliki sejarah Melayu. Kegiatannya pun
dibuat lebih banyak sehingga turis dari daerah lain bisa turut hadir
menyemarakkan suasana.
Untuk mendukung rencana tersebut, pemerintah provinsi Kepulauan Riau
telah mengagendakan serangkaian pembangunan infrastruktur pendukung di
Penyengat seperti penyediaan listrik, air bersih dan jalan akses menuju situs
sejarah. Perumahan
di pinggir laut akan direhabilitasi agar terlihat lebih semarak dari kejauhan. Dan akan
membuat Penyengat lebih terang benderang pada malam hari. Pemerinta provinsi juga
akan merehabilitasi beberapa situs yang sudah rusak agar semakin menarik para
pelancong yang berkunjung ke pulau tersebut. Rasanya tidak berlebihan jika
perintah provinsi Kepulauan Riau berharap Penyengat bisa menyedot wisatawan
yang ingin menyaksikan bukti sejarah kebesaran kerajaan Melayu di Kepulauan
Riau.
Festival
Pulau Penyengat sangat baik untuk dilaksanakan apabila didukung semua pihak
terkait baik Dinas Kebudayaan dan Pariwisata kota Tanjung Pinang dan masyarakat
pulau penyengat sendiri..
c.
Diadakannya
Kerjasama dengan Travel Biro
Dapat diketahui bahwa travel biro memiliki peran
yang strategis dalam mengembangan pariwisata kota Tanjung Pinang khususnya Pulau Penyengat. Dalam rangka pembangunan kota
Tanjung Pinang di sektor pariwisata diperlukan keterlibatan
biro perjalanan untuk menentukan pasar wisata yang tepat agar dapat dicapai hasil yang optimal. Dengan melihat peran travel biro yang dominan dalam
menyampaikan informasi wisata di kota Tanjung Pinang,
dan telah dapat dilihat keberhasilannya, maka pemerintah hendaknya lebih meningkatkan kerjasamanya kepada travel
biro. Bentuk kerjasama yang dapat
dilakukan dapat berbentuk penyusunan kalender even dan penciptaan daya tarik wisata yang lebih bersifat dinamis sesuai dengan
perkembangan minat pasar. Dalam hal ini biro perjalanan lebih memiliki pengalaman lapangan dan
bentuk kerjasama praktis dengan travel biro
di berbagai daerah. Manfaat yang diperoleh antara lain:
1. Pemerintah dapat lebih menghemat biaya promosi, namun
target yang dicapai akan lebih tepat (manfaat efesiensi
dan efektivitas).
2. Penyampaian citra pariwisata bersifat positif.
3. Feed back informasi
dari biro perjalanan kepada pemerintah lebih bersifat up-date terkait dengan perkembangan minat wisatawan.
d.
Memperbanyak
Iklan tentang Pulau Penyengat
Komponen lainnya di bidang promosi wisata ini
adalah memperbanyak brosur atau
mengiklankan di media massa tentang tempat dan objek wisata yang menarik dikunjungi di kota Tanjung Pinang khususnya di
Pulau Penyengat. Hal ini dilakukan
sebagai upaya untuk lebih memperkenalkan tempat dan
objek wisata yang layak dikunjungi oleh wisatawan yang datang ke kota ini. Dengan adanya kegiatan promosi wisata
melalui brosur dan iklan di media massa
maka peningkatan kegiatan promosi wisata akan lebih efisien dan efektif karena
mudah didapatkan dan didengar oleh wisatawan sehingga menimbulkan keinginan untuk datang berkunjung ke kota Tanjung Pinang khususnya Pulau Penyengat. Upaya
lainnya dari kegiatan promosi ini adalah memperbanyak baleho atau papan iklan di pusat kota dan tempat-tempat tertentu yang ramai
dikunjungi. Pemasangan baleho ini
merupakan salah satu faktor yang relevan dalam memperkenalkan tempat dan objek wisata sehingga lebih dikenal oleh wisatawan.
4.2. Potensi objek wisata di kawasan Mesjid Raya Pulau Penyengat yang dapat diunggulkan
oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata di Tanjung Pinang
Banyaknya wisatawan yang berlibur
untuk berkunjung di Kepulauan Riau
juga sangat membanggakan bagi provinsi yang terletak di pulau Sumatera ini. Banyak tempat menarik dari obyek wisata Indonesia yang ada di provinsi Kepulauan Riau seperti wisata religi, budaya dan
sejarah. Pulau Penyengat juga merupakan salah satu
obyek wisata di Kepulauan Riau, salah satu objek yang bisa kita lihat adalah
Mesjid Raya Pulau Penyengat. Adapun potensi yang di miliki berupa
keunikan-keunikan pada Mesjid Raya Pulau Penyengat adalah sebagai berikut :
1.
Salah satu mesjid yang
menggunakan putih teloh sebagai bahan campuran pada pembangunannya.
2.
Mesjid pertama yang menggunakan
kubah pada atapnya di daerah Kepulauan Riau.
3.
Masuknya ajaran agama islam
pertama kali di Kepulauan Riau.
4.
Mesjid yang tercatat dalam
sejarah Indonesia sebagai salah satu peninggalan bersejarah kerajaan
Riau-Lingga yang masih ada.
5.
Mesjid Raya Pulau Penyngat
terdapat 13 kubah dan 4 menara berujung runcing setinggi 19 meter, jika jumlah
kubah dan menara menunjukkan bilangan rakaat sholat dalam 1 hari.
6.
Didalam Mesjid Raya Pulau
Penyengat terdapat buku Tuhfat al-Nafis yang di tulis oleh Raja Ali Haji
sebagai pujangga kerajaan Riau-Lingga.
7. Di halaman Mesjid Raya Pulau Penyengat terdapat dua buah rumah sotoh
(tempat pertemuan) yang di peruntukkan bagi musafir dan tempat munyawarah, dan
ada lagi dua balai tempat untuk menyediakan hidangan ketika kenduri atau untuk
berbuka puasa yang di sediakan pengurus Mesjid Raya Pulau Penyengat.
4.3. Persepsi Wisatawan Terhadap Objek Wisata Mesjid Raya
Pulau Penyengat Sebagai Objek Wisata oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata di Tanjung Pinang
Motivasi kunjungan wisatawan baik lokal maupun wisatawan mancanegara ke Pulau
Penyengat, khususnya Singapura dan Malaysia erat kaitannya dengan keberadaan objek-objek wisata sejarah dan
sosial budaya yang terdapat di kota ini. Dengan demikian motif
kunjungan mereka termasuk ke dalam kategori menikmati dan mengagumi
kekayaan sejarah dan budaya di Pulau Penyengat. Disisi lain,
banyak juga wisatawan tersebut yang datang karena adanya
hubungan kekerabatan (etnis Melayu) dengan sanak saudara yang ada di Pulau
Penyengat. Berikut ini penulis sajikan tanggapan wisatawan yang datang ke Pulau
Penyengat berdasarkan:
a.
Tanggapan Terhadap Atraksi Wisata
Beberapa atraksi
wisata di kawasan Mesjid Raya Pulau Penyengat seperti :
a.
Pertunjukan pembacaan syair gurindam 12.
b.
Perlombaan
seni tari tradisional oleh sanggar tari yang ada di Provinsi Kepulauan Riau.
c.
Perlombaan
takbir di Mesjid Raya Pulau Penyengat pada bulan Ramadhan.
Berikut
ini penulis sajikan tanggapan wisatawan terhadap Atraksi Wisata yang ada di
Pulau Penyengat.
Tabel4.1: Tanggapan Wisatawan Terhadap Atraksi Wisata di Pulau Penyengat
No
|
Tanggapan responden
|
Frekuensi
|
Persentase
|
1.
|
Sangat Baik
|
5
|
16,7%
|
2.
|
Baik
|
9
|
30%
|
3.
|
Cukup Baik
|
10
|
33,3%
|
4.
|
Tidak Baik
|
6
|
20%
|
Jumlah
|
30
|
100%
|
Sumber : Data Olahan Penelitian
Rata-rata
wisatawan menilai bahwa atraksi wisata yang ditampilkan tergolong ke
dalam hal Baik yaitu 9 orang 30% tetapi masih ada yang menilai bahwa atraksi wisata
tergolong ke dalam hal Tidak Baik yaitu 6 orang 20%. Adapun alasan para wisatawan tersebut menilai hal demikian adalah:
1.
Kondisi atraksi wisata yang ada di Pulau Penyengat belum mampu menarik minat wisatawan untuk
melihatnya. Permintaan pasar terbanyak terhadap atraksi
wisata adalah adat istiadat dikarenakan sangat kentalnya
budaya wisatawan dari Malaysia dengan budaya masyarakat Melayu di Pulau Penyengat.
2.
Sangat
dirasakan oleh wisatawan bahwa minim sekali di Pulau Penyengat pertunjukkan
kesenian tradisional (Melayu).
3.
Atraksi yang
paling disukai wisatawan adalah
bangunan bersejarah, maka diperlukan
pengelolaan bangunan-bangunann bersejarah yang ada di Pulau Penyengat, sekaligus dalam rangka melestarikan peninggalan
budaya di
Pulau Penyengat.
b.
Terhadap Pengelolaan Wisata
Berikut
ini penulis sajikan tanggapan wisatawan terhadap pengelolaan wisata di Pulau
Penyengat.
Tabel 4.2 : Tanggapan Wisatawan Terhadap Pengelolaan Wisata di Kota Tanjung Pinang Khususnya Pulau Penyengat
No
|
Tanggapan responden
|
Frekuensi
|
Persentase
|
1.
|
Sangat Baik
|
4
|
13,3%
|
2.
|
Baik
|
6
|
20%
|
3.
|
Cukup Baik
|
15
|
50%
|
4.
|
Tidak Baik
|
5
|
16,7%
|
Jumlah
|
30
|
100%
|
Sumber : Data Olahan Penelitian
Dari data diatas dapat dilihat
mengenai tanggapan wisatawan terhadap pengelolaan wisata rata-rata menjawab cukup baik yaitu 15 orang 50%. Namun masih adanya wisatawan yang menjawab Tidak Baik
yaitu 5 orang 16,7% dikarenakan beberapa alasan sebagai berikut ini:
1.
Sangat dirasakan bahwa fasilitas wisata yang ada di Pulau
Penyengat kurang memadai dan pada
akhirnya mengurangi motivasi wisatawan untuk datang berkunjung.
2.
Kurangnya
fasilitas yang memadai, ruangan dan gedung, serta belum tersedianya pusat perbelanjaan
dan hiburan yang berskala Internasional.
3.
Menyediakan
dan mengembangkan berbagai sarana penunjang pariwisata yang dapat memberikan
kenyamanan kepada wisatawan yang berkunjung ke berbagai obyek dan daya tarik
wisata di Pulau Penyengat.
Dalam kerangka
pengelolaan obyek dan daya tarik wisata Pulau Penyengat, diperlukan beberapa usaha ekstra untuk menjaga agar aset
budaya dan pariwisata tersebut tetap
lestari meskipun pemanfaantannya lebih berorientasi ekonomis. Usaha pengelolaan tersebut antara lain:
a.
Revitalisasi
kawasan pariwisata dan obyek-obyek wisata budaya dan sejarah, terutama Pulau Penyengat.
b.
Mengembangkan
dan meningkatkan jenis produk pariwisata budaya dan sejarah yang memiliki
keunggulan kompetitif sesuai dengan kondisi Pulau Penyengat sehingga lebih menarik lagi bagi para
wisatawan.
c.
Pemberdayaan
masyarakat dalam merawat obyek-obyek bersejarah.
d.
Membentuk
dan membina kelompok sadar wisata disetiap objek wisata yang memiliki potensi
untuk dikembangkan.
c.
Terhadap Akomodasi yang tersedia
Akomodasi
merupakan salah satu pendukung kepariwisataan yang sangat penting selain fasilitas-fasilitas pendukung pariwisata lainnya.
Ketersediaan pelayanan akomodasi di daerah kawasan
wisata merupakan syarat mutlak karena berpengaruh terhadap perkembangan pariwisata. Pulau Penyengat sebagai salah satu daerah tujuan
wisata di Provinsi Kepulauan Riau memiliki berbagai jenis wisata,
seperti wisata sejarah, budaya dan religi telah menarik minat wisatawan mancanegara untuk datang berkunjung. Kedatangan wisatawan mancanegara tersebut
karena adanya fasilitas
penginapan (hotel, motel,
wisma, maupun losmen), travel biro, dan tempat-tempat hiburan. Akomodasi mutlak
harus tersedia untuk mendukung kepariwisataan di sebuah daerah yang memiliki
objek wisata yang dapat diunggulkan sehingga wisatawan yang datang akan meningkat. Secara prinsipil komponen akomodasi di kota
Tanjung Pinang sebagai daerah tujuan
wisata sudah memadai. Namun secara kenyataannya di Pulau
Penyengat akomodasi yang tersedia hanyalah rumah masyarakat setempat, sehingga kurangnya fasilitas akomodasi hotel
maupun penginapan lainnya.
Berikut
ini penulis sajikan tanggapan wisatawan terhadap akomodasi yang tersedia di kota Tanjung Pinang khususnya Pulau
Penyengat.
Tabel 4.3 : Tanggapan Wisatawan Terhadap Akomodasi yang Tersedia di Kota Tanjung
Pinang khususnya Pulau Penyengat
No
|
Indikator
|
Frekuensi
|
Persentase
|
1.
|
Sangat Baik
|
5
|
16,7%
|
2.
|
Baik
|
7
|
23,3%
|
3.
|
Cukup Baik
|
11
|
36,7%
|
4.
|
Tidak Baik
|
7
|
23,3%
|
Jumlah
|
30
|
100%
|
Sumber : Data Olahan Penelitian
Dari penilaian wisatawan diatas
dapat dilihat bahwa rata-rata wisatawan menjawab cukup baik yaitu 11 orang 36,7%. Namun masih ada wisatawan yang
menjawab tidak baik yaitu 7 orang 23,3%. Alasan wisatawan menjawab tidak baik atas adalah dikarenakan minimnya akomodasi yang tersedia di Pulau Penyengat dan kurangnya fasilitas pendukung akomodasi di hotel
maupun penginapan lainnya. Sehingga para wisatawan tidak memiliki kesempatan
untuk berlama-lama menikmati wisata di Pulau Penyengat. Fasilitas pendukung
akomodasi seperti restoran dan tempat hiburan tradisional masih minim sekali,
hanya disaat event-event tertentu saja sedangkan kunjungan wisatawan dilakukan
sepanjang tahun bagi wisatawan yang tidak mengetahui jadwal event tersebut
berlangsung.
d.
Terhadap Transportasi Yang tersedia
Berikut
penulis sajikan tanggapan wisatawan terhadap transportasi yang tersedia di kota Tanjung Pinang
khususnya Pulau
Penyengat.
Tabel 4.4 : Tanggapan Wisatawan Terhadap Transportasi yang Tersedia di Kota Tanjung Pinang
Khususnya Pulau Penyengat
No
|
Tanggapan responden
|
Frekuensi
|
Persentase
|
1.
|
Sangat Baik
|
4
|
13,3%
|
2.
|
Baik
|
5
|
16,7%
|
3.
|
Cukup Baik
|
12
|
40%
|
4.
|
Tidak Baik
|
9
|
30%
|
Jumlah
|
30
|
100%
|
Sumber : Data Olahan Penelitian
Data
diatas menunjukkan bahwa tanggapan wisatawan terhadap transportasi yang
tersedia rata-rata menjawab tidak baik yaitu 9 orang 30% alasan wisatawan menjawab demikian dikarenakan beberapa hal yaitu:
1.
Untuk mengunjungi Pulau Penyengat transportasi yang tersedia hanyalah menggunakan
transportasi laut yaitu kapal (Pompong). Perjalanan laut ditempuh lebih kurang
15 menit dari kota Tanjung Pinang. Adapun Pelabuhan yang digunakan untuk
berlabuh ke Pulau Penyengat ada 2 yang mana terletak pada jalan pelabuhan 1 dan
Jln DT. Ibrahim (pelabuhan ke-2). Sedangkan saat ini pintu masuk ke kota Tanjung Pinang praktis hanya dapat ditempuh melalui transportasi laut sebagai jalur angkutan yang
paling dominan. Untuk transportasi udara sudah dapat digunakan bandara Kijang hanya sebatas rute Tanjung
Pinang – Jakarta, untuk rute yang lain masih di pertimbangkan oleh maskapai
penerbangan yang ada. Penambahan angkutan udara diperlukan guna meningkatkan
standar pelayanan wisata sehingga memudahkan wisatawan
untuk mendatangi tempat dan objek wisata yang hendak dituju seperti Pulau penyengat.
2.
Transportasi yang
digunakan untuk mengelilingi situs yang ada di Pulau Penyengat ada 3 yaitu, motor sewaan (Rp 25.000 /1 jam), ojek motor (Rp 25.000/1 jam), becak motor (Rp 25.000 /1 jam) dan sepeda sewaan (Rp.10.000/1 jam)
e.
Terhadap Iklan dan Promosi tentang
Pulau Penyengat yang dilakukan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata kota Tanjung
Pinang
Untuk
memperkenalkan suatu daerah tujuan wisata maka sangat diperlukan adanya
kegiatan promosi. Keadaan yang terlihat di Pulau Penyengat pada saat ini, kegiatan
promosi tempat dan objek wisata gaungnya kurang terdengar oleh wisatawan. Kebanyakan
wisatawan mendapatkan informasi tentang Pulau Penyengat dari wisatawan lainnya
yang telah datang berkunjung.
Berikut
penulis sajikan tanggapan wisatawan terhadap Iklan dan
Promosi tentang Pulau Penyengat yang dilakukan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata
kota Tanjung Pinang.
Tabel 4.5 : Tanggapan Wisatawan Terhadap Iklan dan Promosi tentang Pulau Penyengat yang
dilakukan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjung Pinang
No
|
Tanggapan responden
|
Frekuensi
|
Persentase
|
1.
|
Sangat Baik
|
4
|
13%
|
2.
|
Baik
|
5
|
17%
|
3.
|
Cukup Baik
|
11
|
37%
|
4.
|
Tidak Baik
|
10
|
33%
|
Jumlah
|
30
|
100%
|
Sumber : Data Olahan Penelitian
Data
diatas menunjukkan bahwa tanggapan wisatawan terhadap Iklan dan
Promosi tentang Pulau Penyengat yang dilakukan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata
kota Tanjung Pinang
rata-rata menjawab tidak baik yaitu 10 orang 33% alasan wisatawan menjawab demikian dikarenakan beberapa hal yaitu:
1. Iklan dan promosi yang
telah dilakukan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjung Pinang
Provinsi Kepulauan Riau sepertinya salah sasaran, hal ini ditunjukkan oleh
jumlah wisatawan yang menjawab tidak baik sebanyak 10 orang
Para wisatawan merasa kesulitan untuk mendapatkan informasi tentang objek wisata yang dikunjungi karena tiadanya pemandu wisata professional
di tempat dan objek wisata.
5.KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. KESIMPULAN
1.
Mesjid Raya Pulau Penyengat
merupakan salah satu andalan dalam mendukung wisata religi dan wisata sejarah kota
Tanjung Pinang mengingat banyaknya peninggalan situs sejarah di pulau ini yang
bisa menjadi objek unggulan bagi wisatawan domestic dan wisatawan internasional.
Dan ada pun upaya promosi yang di lakukan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata
dalam meningkatkan jumlah kunjungan seperti : tersedianya pusat informasi
pariwisata, diadakannya festival pulau penyengat, diadakan kerjasama dengan
travel biro dan memperbanyak iklan tentang pulau penyengat. Dan keberadaan
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata saat ini dapat di katakan baik. Dengan berbagai
promosi yang dilakukan oleh Dinas terkait sehingga kedepan dapat meningkatkan
kunjungan.
2.
Potensi
wisata yang berkembang di Pulau Penyengat saat ini adalah wisata religi dan
wisata sejarah dan budaya. Potensi objek wisata di kawasan Mesjid Raya Pulau Penyengat yang memeliki keunikan adalah antara
lain : bahan pembangunannya yang di campur dengan putih telur, salah satu
peninggalan kerajaan Riau- Lingga yang masih ada, sejarah masuknya agama islam
pertama kali ke kepulauan riau dan dengan 13 kubah dan 4 menara yang ada di
Mesjid Raya Pulau Penyengat jika dijumlahkan menunjukkan
bilangan rakaat shalat dalam satu hari. Dan disekitar Mesjid Raya juga terdapat komplek
makam-makam raja dan makam Engku Putri Hamidah sebagai pemilik Pulau Penyengat.
Obyek-obyek wisata ini menjadi favorit kunjungan para wisatawan domestik dan
wisatawan internasional.
3.
Persepsi masyarakat mengenai Mesjid Raya Pulau
Penyengat sebagai objek wisata relegi dan wisata sejarah dan budaya di kota
Tanjung Pinang. Di sisi lain, banyak juga wisatawan tersebut yang datang
karena adanya hubungan kekerabatan (etnis Melayu) dengan sanak
saudara yang ada di kota Tanjung Pinang. Rata-rata tanggapan
wisatawan adalah cukup baik, hal ini di karenakan masih banyak yang perlu di
benahi dan di lakukan dalam promosi Mesjid Raya Pulau Penyengat.
5.2. SARAN
No comments:
Post a Comment