Saturday, July 11, 2015

ANALISIS TINGKAT PELAYANAN PARIWISATA TERHADAP WISATAWAN EVENT BAKAR TONGKANG (GOGE CAP LAK) DI BAGANSIAPIAPI


Oleh : Sefrona Syaiful, SH., MM & Tabrani
Abstrak
Upacara Bakar Tongkang atau dalam istilah Cina disebut Goge Cap Lak merupakan salah satu event pariwisata yang cukup atraktif di Propinsi Riau dimana dihadiri oleh puluhan ribu pengunjung. Sebagai sebuah event  yang cukup banyak mendatangkan wisatawan domestik maupun mancanegara, event Bakar Tongkang telah mampu menggerakkan perekonomian masyarakat melalui jasa pariwisata yang disuguhkan kepada wisatawan. 
Dengan ramainya kunjungan ke Bagansiapiapi saat upacara Bakar Tongkang terbuka peluang bagi penyedia jasa pariwisata untuk menjual produk yang sesuai dengan kebutuhan wisatawan. Keadaan yang demikian membutuhkan tingkat pelayanan yang dapat memberi kepuasan bagi wisatawan. Kepuasan yang dirasakan wisatawan merupakan ukuran untuk menilai bagaimanakah tingkat produk pariwisata yang ditawarkan memenuhi standar pelayanan keinginan costumer. Oleh karena itu penulis tertarik untuk meneliti masalah tingkat pelayanan pariwisata yang diberikan kepada wisatawan pada saat diselenggarakan upacara Bakar Tongkang di Bagansiapiapi. Tingkat pelayanan dimaksud meliputi komponen jasa Transportasi, Akomodasi, Makan Minum, Cenderamata, Hiburan, Obyek Wisata dan Jasa Pariwisata lainnya. 

PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang

Indonesia mempunyai potensi yang besar dibidang pariwisata. Tanah air yang luas dengan keindahan dan kekayaan alam yang berlimpah dihiasi pula oleh khazanah budaya yang beraneka ragam menjadi daya tarik pariwisata yang kuat bagi para wisatawan.  Propinsi Riau sebagai wilayah yang pernah menjadi Daerah Tujuan Wisata utama di Indonesia dimasa lalu cukup dikenal karena memiliki tempat-tempat yang menarik untuk dikunjungi wisatawan seperti Batam dan Tanjung Pinang. Namun hal itu berubah setelah Propinsi Kepulauan Riau terbentuk.
Wilayah Propinsi Riau sekarang yang secara geografis sering disebut Riau daratan ini sangat minim dengan garis pantai berpasir yang  selama ini menjadi andalan di daerah kepulauan. Oleh karena itu potensi alternatif yang tidak kalah menarik mesti digarap untuk menggantikan andalan pariwisata Riau sebelumnya. Disamping obyek-obyek wisata alam, buatan manusia dan lain-lain, event  budaya merupakan daya tarik yang dapat mendatangkan wisatawan ke Riau. Keberadaan event   seperti Pacu Jalur, Bakar Tongkang, Pacu Sampan dan lain sebagainnya perlu terus dikembangkan karena telah terbukti mampu mendatangkan wisatawan ke Riau.
Upacara Bakar Tongkang di Kabupaten Rokan Hilir yang merupakan salah satu event  budaya terpenting masyarakat Cina di Bagansiapiapi telah mulai dikenal baik di Riau maupun diberbagai pelosok. Upacara   Bakar Tongkang ini atau istilah Cina biasa disebut Goge Cap Lak merupakan satu dari belasan event  sembahyang Cina yang dirayakan masyarakat Bagansiapiapi. Kemeriahan event  ini didukung oleh kunjungan keturunan masyarakat Cina perantauan asal Bagansiapiapi maupun wisatawan asing lainnya yang datang meramaikan disetiap tahun. 
Jumlah pengunjung yang datang ke Bagansiapiapi pada masa diselenggarakannya event Bakar Tongkang diperkirakan mencapai 30 ribu hingga 40 ribu orang.  Mereka  diantaranya berasal dari daerah terdekat seperti Panipahan, Pulau Halang, Sinaboi, Sungai Bakau dan lain-lain. Sebagian dari mereka berasal dari kota-kota di luar Rokan Hilir seperti Pekanbaru, Medan, Dumai, Batam, Jakarta, Pontianak, Surabaya, Tanjung Balai Asahan dan lain sebagainya.  Sedangkan dari luar negeri terbanyak dari Malaysia, Singapura disusul Hongkong, Taiwan dan Cina daratan. Mereka yang terdata di hotel /penginapan jauh lebih kecil diperkirakan hanya 5 persen saja dari daya tampung hotel yang ada. Selebihnya tinggal di rumah-rumah penduduk dan  vihara-vihara yang banyak tersebar di seantero kota Bagansiapiapi. Umumnya pengunjung  sudah memadati kota Bagansiapapi dua hari sebelum upacara dilaksanakan, dan mulai meninggalkan kota Bagansiapiapi keesokan harinya setelah upacara selesai.  
Kondisi prasarana akomodasi di Bagansiapiapi adalah kelas melati. Dengan tingkat pelayanan yang hampir sama satu sama lain. Jasa akomodasi hotel, jumlah kamar dan jumlah tempat tidur di Bagansiapiapi dapat dilihat dari tabel berikut :




Tabel  1
Jumlah Kamar dan Tempat Tidur Hotel di Bagansiapiapi.

No.
Nama Hotel
Jumlah kamar
Jumlah Tempat tidur
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
Hotel Bagan
Hotel Kades
Hotel Horrison
Hotel Mahera
Wisma  Mawar
Wisma Indah
Wisma Mina
Wisma Dewi Mz
Wisma Irma
Insani Hotel
Wisma Rohil
Hotel Paradise
Penginapan Ulung Ujang
57
40
50
36
30
38
25
20
28
30
30
22
8
114
90
104
80
60
64
54
40
60
52
60
32
16

Jumlah
424
826
Sumber; Hasil survey Data Hotel di Bagansiapiapi


 Dengan demikian seyogyanya terdapat pula perkembangan ekonomi disebabkan efek kunjungan wisatawan tersebut, terutama mereka yang merasakan dampak langsung kunjungan wisatawan seperti yang menyediakan sarana dan prasarana  akomodasi, transportasi, makan minum, penjual cenderamata, dan lain sebagainya. 
Secara khusus dari pengamatan awal (preliminary study) yang penulis lakukan di Bagansiapiapi pada saat pelaksanaan Upacara Bakar Tongkang terlihat bahwa beberapa aspek mempengaruhi kunjungan wisatawan, baik aspek ekonomi maupun aspek non ekonomi. Aspek ekonomi seperti tingkat pendapatan wisatawan yang melakukan perjalanan merupakan alasan utama. Setiap manusia selalu dihadapkan kepada masalah keuangan, dan melakukan perjalanan selalu memerlukan uang. H.E.A.  Chalik, (1992: 34). Tersedianya dana sudah barang tentu menjadi syarat mutlak agar dapat melakukan perjalanan. Akan tetapi aspek  lain (non ekonomi) tidak kalah pentingnya, sehingga perlu diketahui motivasi yang merangsang wisatawan untuk melakukan kunjungan ke Bagansiapiapi pada saat Upacara Bakar Tongkang.

B.  Perumusan Masalah
Dari Latar belakang tersebut dapat dimaklumi bahwa pada dasarnya masyarakat Bagansiapiapi disinyalir belum berperan optimal dalam memanfaatkan kunjungan wisatawan, selain itu standar pelayanan jasa pariwisata belum diterapkan dengan baik,  dalam hal ini penulis merumuskan pertanyaan pokok yang harus dijawab adalah : Bagaimanakah Tingkat Pelayanan Jasa Pariwisata yang diterima Wisatawan saat menghadiri Upacara Bakar Tongkang (goge Caplak) di Bagansiapiapi ?

C. Ruang Lingkup Masalah

1.    Bagaimanakah keberadaan Upacara Bakar Tongkang (Goge cap lak) sebagai sebuah event       Pariwisata.
2.  Jasa pariwisata apasaja yang dipergunakan wisatawan pada saat penyelenggaraan Upacara Bakar Tongkang (Goge cap lak) di Bagansiapiapi.
3.   Bagaimanakah tingkat kepuasan wisatawan terhadap pelayanan produk jasa pariwisata yang diberikan kepada wisatawan saat berlangsungnya Upacara Bakar Tongkang (Goge cap lak) di Bagansiapiapi? 
4. Bagaimanakah peran jasa Pariwisata dalam meningkatkan kunjungan wisatawan saat berlangsungnya Upacara Bakar Tongkang (Goge cap lak) di Bagansiapiapi?


D. Tinjauan Pustaka
1. Produk Jasa Pariwisata 
Kegiatan utama pariwisata adalah memberikan jasa atau pelayanan kepada wisatawan. Kegiatan menghasilkan produk merupakan bagian dari pelayanan yang secara bersama-sama menjadi satu-kesatuan yang kemudian diramu menjadi produk pariwisata.
Secara umum produk adalah suatu sifat yang kompleks baik yang dapat diraba maupun yang tidak dapat diraba termasuk bungkus, warna, harga, pretise perusahaan dan pengecer, layanan perusahaan, yang diterima oleh pembeli untuk memuaskan keinginan dan kebutuhannya. (Basu Swasta,  2000: 154).      Jasa atau pelayanan menurut Philip Kotler, (Alih Bahasa Adi Zakaria Afiff : 2002), adalah setiap tindakan atau perbuatan yang dapat ditawarkan oleh suatu pihak kepada pihak lain, yang pada dasarnya bersifat intangible (tidak berwujud fisik)
Analis pariwisata menyatakan bahwa pariwisata merupakan sebuah pemenuhan kebutuhan (need)  meski kebutuhan tersebut direkayasa sedemikian rupa demi memenuhi kepentingan pihak tertentu saja. Tampaknya yang paling esensial dan sesuai dengan tawaran industri pariwisata tersebut adalah kebutuhan akan harga diri (esteem), dimana kebutuhan akan harga diri itu berkemungkinan  muncul dari keinginan (desiree).
Sumber pendapatan masyarakat dari pemberdayaan industri  pariwisata dapat diperoleh melalui usaha pelayanan jasa (service) dan pelayanan menghasilkan produk barang (goods). Walau pengertian pariwisata sebagai sebuah industri masih diperdebatkan Leiper seperti yang dikutip OK. Yoety  (49:2003) menyatakan : Industri Pariwisata (tourist industry) yaitu perusahaan yang menyediakan kebutuhan (need), keinginan (want), dan pelayanan (service) kepada wisatawan yang datang berkunjung. 
Sedangkan yang menjadi produk industri pariwisata menurut Nyoman S. Pendit (2002),” Produk wisata adalah usaha-usaha termasuk dalam lingkungan akomodasi, angkutan, souvenir/kerjinan rakyat, rekreasi/taman hiburan     adalah di antara komponen pokok tersebut antara lain” :
         1.    Hotel
         2.    Fasilitas makan /usaha tata boga
         3.    Cenderamata atau souvenir

2.   Karakteristik Jasa
Karena perbedaan pengertian antara jasa dan produk fisik, maka jasa juga memiliki karakteristik yang berbeda dengan produk fisik.
Jasa memiliki empat ciri utama yang sangat mempengaruhi desain/ rancangan program pemasarannya  yaitu :
a). Ketidak-nyataan (intangibility)
 Jasa adalah tidak nyata. Tidak seperti produk fisik, ia tidak dapat dilihat, dirasakan dikecap, didengar, atau dibaui sebelum ia dibeli. Tingkat kepuasan yang ia rasakan lebih ditekankan kepada pemenuhan rasa ingin tahu, penghargaan diri, kekaguman dan kenyamanan yang  didapat dari berbagai komponen jasa dan   dibandingkan dengan biaya yang telah ia keluarkan.
b). Keadaan tidak terpisahkan (inseparibility).
Jasa-jasa umumnya diproduksi secara khusus dan dikonsumsi pada waktu yang bersamaan. Hal ini tidak berlaku pada barang fisik yang diproduksi, ditempatkan pada persediaan, didistribusikan melalui berbagai pengecer dan akhirnya dikonsumsi. Jika jasa diberikan kepada seseorang, maka orang tersebut adalah merupakan bagian dari jasa tersebut. Wisatawan yang mengunjungi suatu even tidak hanya membutuhkan sarana akomodasi untuk menginap dan restauran untuk makan dan minum pada saat yang sama membutuhkan transportasi lokal untuk berkeliling menyaksikan obyek yang ingin dikunjunginya, sekaligus   mengunjungi toko souvenir untuk mempersiapkan oleh-oleh dibawa pulang.
c). Keragaman (variability).
Jasa-jasa sangat beragam, karena ia sangat tergantung kepada siapa yang menyediakan jasa dan kapan serta dimana ia disediakan. Pandangan atau pemahaman terhadap suatu produk jasa mempengaruhi pembeli/pengguna jasa dalam memilih dan berhati-hati terhadap keragaman tersebut dengan mencari informasi/ pendapat orang lain sebelum memilih. Aktifitas yang hanya menampilkan  sisi homogen dari suatu even akan membosankan, menciptakan variasi baik program maupun bentuk produk barang  yang ditawarkan  dapat merangsang wisatawan untuk mencoba dan melakukan eksplorasi yang lebih luas. Selain  mengunjungi suatu even tertentu wisatawan membutuhkan hal lain yang dapat memperkaya pengalaman mereka dari kunjungan kesuatu daerah tujuan wisata.
d). Keadaan tidak tahan lama  (perishability).
Jasa-jasa tidak dapat disimpan. Namun demikian keadaan yang tidak tahan lama dari jasa-jasa bukanlah suatu masalah jika permintaannya adalah stabil, karena lebih mudah untuk melakukan persiapan pelayanan sebelumnya. Pengusaha  hotel dan transportasi akan lebih mudah menyiapkan kamar dan jumlah kendaraan bila kepadatan  kunjungan wisatawan sudah dapat diprediksi pada-waktu-waktu tertentu seperti saat diselenggarakannya event besar, masa liburan atau diistilahkan dengan masa kunjungan padat (peak season).
Produk yang ditawarkan industri pariwisata baru dapat  dipertemukan dan dinikmati oleh wisatawan bila  didukung  tiga aspek yakni  Pertama,  Keamanan. Keamanan merupakan jaminan utama yang memotivasi orang untuk melakukan perjalanan atau  berkunjung kesuatu daerah tujuan wisata. Negara-negara yang dianggab menjadi target terorisme selalu mengeluarkan travel warning yakni memperingatkan warganya untuk menghindari kunjungan kesuatu tujuan atau negara tertentu atas alasan keamanan. Kedua, kualitas. Bagi penyedia jasa, kualitas jasamerupakan suatu yang harus dikerjakan dengan baik. Aplikasi kualitas sebagai sifat dari penampilan kinerja merupakan bagian utama dari strategi perusahaan dalam meraih keunggulan daya saing (competitive advantage) yang berkelanjutan, baik sebagai pemimpin pasar atau sebagai upaya strategi untuk tumbuh dan berkembang.
Sebenarnya apa yang dimaksud dengan kualitas jasa?
Menurut Wyckof (dalam Lovelock, 1988) defenisi kualitas jasa adalah “tingkat keunggulan yang diharapkan dan pengendalian atas tingkat keunggulan tersebut untuk memenuhi keinginan pelanggan”. (Fandy Tjiptono, 1996:59).
Dengan demikian ada dua faktor utama yang mempengaruhi kualitas jasa yaitu expected service dan perceived service (Parasuraman et al, 1985). Jika jasa yang diterima sesuai dengan yang diharapkan, berarti kualitas dipersepsikan baik dan memuaskan. Jika jasa yang diterima melebihi dari yang diharapkan, maka itu merupakan kualitas ideal. Sedangkan bila jasa yang diterima kurang dari yang diharapkan, maka dipersepsikan sebagai kualitas buruk.
Dengan demikian, keunggulan suatu produk jasa tergantung dari sifat unik dan kualitas yang diperlihatkan oleh jasa dimaksud, apakah sudah sesuai dengan / harapan dan keinginan pelanggan/konsumen. Dalam bisnis jasa terdapat lima  kriteria penentu kualitas jasa pelayanan yakni :
1). Tangible (berwujud)
-     Keamanan, kebersihan, kerapian, dan  kenyaman   fasilitas
-     Kelengkapan, keserasian, keindahan, variasi, keunikan, ukuran, kemasan.
-   Penampilan (performa SDM) seperti kerapian, kebersihan karyawan, penjual, petugas,  guide.

2). Reliability (kehandalan).
-     Prosedur  pesanan yang cepat dan mudah  dan tidak berbelit-belit.
-     Pelayanan  yang memenuhi syarat, cepat, tepat, menarik, dan tertib, terpogram (jadwal).    
-     Terpilih, lancar, mudah diperoleh, kesiapan,  daya tahan dan  kegunaan produk pelayanan.

3). Responsiviness (keresponsifan/tanggapan).
-     Kemampuan pramuwisata/penjual/karyawan hotel/restoran untuk cepat tanggap menyelesaikan keluhan costumer/wisatwan.
-     Petugas memberikan informasi dengan jelas dan mudah dimengerti
-     Tindakan cepat pada saat wisatawan membutuhkan pelayanan.

4).  Assurance (keyakinan/kepercayaan).
-     Pengetahuan dan kemampuan para pramuwisata, petugas, penjual, karyawan hotel/restoran, menjelaskan dan menawarkan produk.
-     Keterampilan para petugas penyedia jasa dalam bekerja.
-     Pelayanan yang sopan, ramah.
-     Jaminan keamanan, kepercayaan terhadap pelayanan.
5). Empathy (empati).
-     Memberikan perhatian secara khusus kepada setiap wisatawan.
-     Perhatian terhadap keluhan wisatawan
-     Pelayanan pada semua wisatawan/costumer/pelangan secara tulus tanpa melihat status sosial dan lainnya. 

3.  Pengertian Kepuasan.
Menurut Oliver yang dikutip J. Suprianto, MA, (233: 1997) Kepuasan adalah tingkat perasaan seseorang setelah membandingkan kinerja/hasil yang dirasakannya dengan harapannya. Dalam bukunya "Pemasaran : Dimensi Falsafah, Disiplin dan Keahlian", Dr. Pawitra mengatakan, secara tradisional pengertian kepuasan pelanggan l perbedaan antara harapan (expectations) dan kinerja yang dirasakan (perceived performance). (Yuli Setiono,1995:233) Pengertian lainnya : 
Kepuasan pelanggan itu didefenisikan sebagai persepsi pelanggan mengenai pelayanan (termasuk product performance) suatu perusahaan : baik atau tidak baik, tergantung pada kesesuaian antara harapan dan realita pelayanan yang diperolehnya selama circle of service. Kualitas pelayanan itu ukurannya kualitatif bahkan cenderung subjektif, (Taufik, 1994: 41)
Bahkan, ada yang memberikan pengertian tentang kepuasan pelanggan sebagai berikut:

                                                                            Persepsi Pelanggan

                               Kepuasan Pelanggan =  ———————————

                                                                          Ekspektasi Pelanggan


Ekspetlasi pelanggan adalah apa yang dipikirkan pelanggan akan diperolehnya melalui suatu transaksi. Persepsi pelanggan adalah apa yang dipikirkan pelanggan telah diperolehnya melalui suatu transaksi".

Apakah yang menentukan seorang konsumen itu merasa sangat puas, cukup puas atau tidak puas atas sesuatu yang dibelinya ?.

Kepuasan pembeli merupakan fungsi dari dekatnya antara harapan dari pembeli tentang produk dan kemampuan dari produk tersebut. Bila produk tersebut jauh di bawah harapan pelanggan, pelanggan akan kecewa bila melebihi harapannya, pelanggan merasa sangat senang. Perasaan-perasaan ini mengakibatkan perbedaan mengenai apakah pelanggan membeli produk itu kembali dan menyampaikan perasaan senang atau tidak senangnya tentang produk tersebut kepada orang lain. (Philip Kotler: 156-257)
Lebih lanjut disebutkan, bahwa seorang konsumen yang tidak puas akan bereaksi secara berbeda dan akan mengambil satu atau dua tindakan. Mereka mungkin akan mengurangi ketidak-cocokannya dengan meninggalkan atau mengembalikan produk tersebut, atau mungkin mereka berusaha mengurangi ketidak-cocokannya dengan mencari informasi yang mungkin mengkonfirmasi produk   tersebut   sebagai   bernilai   tinggi   (atau   menghindari   informasi   yang mengkonfirmasikan produk tersebut sebagai bernilai rendah).
Jika konsumen merasa puas, maka ia akan memperlihatkan kemungkinan yang lebih tinggi untuk membeli produk itu lagi. Konsumen yang puas juga akan cenderung mengatakan hal-hal yang baik tentang merek yang bersangkutan kepada orang lain. Para pemasar mengatakan : "Iklan kami yang terbaik adalah pelanggan yang puas. Harapan pelanggan dapat dibentuk oleh pengalaman masa lampau, komentar dari kerabatnya serta janji dan informasi pemasar dan saingannya. Pelanggan yang puas akan setia lebih lama, kurang sensitif terhadap harga dan memberi komentar yang baik tentang perusahaan.
Dengan demikian, kepuasan sangat berkaitan erat dengan kualitas jasa, dimana terdapat dua faktor utama yang mempengaruhinya yaitu expected service dan perceived service. (Fandy Tjiptono, 59)

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar 4 berikut :

           

E. Metode Penelitian

1. Variabel penelitian

Untuk mempermudah pengujian hipotesis maka variabel-variabel penelitian dijabarkan dalam bentuk operasional variabel sebagai alat ukurnya seperti yang terdapat dalam tabel berikut:

Tabel. 2
Variabel dan Indikator Penelitian


Variabel
Indikator
1). Tangible (berwujud)





2). Reliability (kehandalan).






3).Responsiviness (daya tanggap).






4). Assurance (keyakinan/ kepercayaan).






5). Empathy (empati).

- Keamanan, kebersihan, kerapian, dan  kenyaman   fasilitas
-   Kelengkapan, keserasian, keindahan, variasi, keunikan, ukuran, kemasan.
-    Penampilan (performa SDM) seperti kerapian, kebersihan karyawan, penjual, petugas, guide.

-   Prosedur  pesanan yang cepat dan mudah  dan tidak berbelit-belit.
-    Pelayanan yang memenuhi syarat, cepat, tepat, menarik, dan tertib, terpogram (jadwal).
-    Terpilih, lancar, mudah diperoleh, kesiapan, daya tahan dan kegunaan produk pelayanan.

-   Kemampuan pramuwisata/ penjual/ karyawan hotel/ restoran untuk cepat tanggap menyelesaikan keluhan costumer/wisatawan.
-   Petugas memberikan informasi dengan jelas dan mudah dimengerti
-    Tindakan cepat pada saat wisatawan membutuhkan pelayanan.

-   Pengetahuan dan kemampuan para pramuwisata, petugas, penjual, karyawan hotel/ restoran, menjelaskan dan menawarkan produk.
-   Keterampilan para petugas penyedia jasa dalam bekerja.
-   Pelayanan yang sopan, ramah.
-   Jaminan keamanan, kepercayaan terhadap pelayanan.

-   Memberikan perhatian secara khusus kepada setiap wisatawan.
-   Perhatian terhadap keluhan wisatawan
-   Pelayanan pada semua wisatawan/ costumer/ pelanggan secara tulus tanpa melihat status sosial dan lainnya.




Sumber : Fandy Tjiptono, "Manajemen Pemasaran", 1996

 

2.   Populasi dan sampel

1.      Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Sugiyono (1992 : 57). Sebagian populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat Bagansiapiapi yang bekerja atau berusaha sebagai pedagang, penyedia jasa pariwisata serta penghasil produk yang berhubungan dengan pengeluaran (konsumsi wisatawan) selama mengikuti event  Bakar Tongkang. Sedangkan sebagian lainnya adalah wisatawan yang berkunjung pada saat penyelenggaraan even Bakar Tongkang. Sampling yang dipergunakan adalah stratified random sampling  yaitu pemilihan sampel sedemikian rupa sehingga populasi pada semua strata dan unit organisasi /kegiatan dapat terwakili  secara proporsional pada sampel sesuai dengan jumlah populasi.

2. Sampel
Sampel adalah sebagian dari obyek, gejala atau peristiwa; tidak seluruhnya. Marzuki (2000 : 41). Agar populasi pada setiap kelompok dapat terwakili, dalam sampel akan dilakukan secara random sehingga setiap populasi  memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi sampel. Jumlah sampel ditetapkan sebanyak 40 orang wisatawan yang berkunjung ke Bagansiapiapi saat berlangsungnya event   Bakar Tongkang.

3.   Jenis Sumber Data 
Yang menjadi sumber data dalam penelitian ini adalah:
  1. Data primerData primer dikumpulkan secara langsung dari lokasi obyek penelitian dengan melakukan berbagai kegiatan seperti pengamatan (observasi), tanya jawab (interview) dan penyebaran angket dengan para wisatawan yang menghadiri event  Bakar Tongkang (Goge Cap lak) dan pelaku bisnis yang terlibat dalam kegiatan pariwisata serta Dinas Pariwisata Kabupaten Rokan Hilir.
  1. Data SkunderData sekunder diperoleh dari studi kepustakaan, dan dari dokumen lainnya.
4.  Alat dan Teknik Pengumpulan Data 
Alat pengumpulan data dilakukan secara terpisah meskipun karena keduanya saling berhubungan. Adapun alat pengumpulan data yang dipergunakan penulis dalam penelitian ini adalah:

1.      Angket
Angket dilaksanakan secara tertulis oleh karena itu sering disebut sebagai wawancara tertulis. Dalam penyusunannya angket dibuat terstruktur dimana telah tersedia kemungkinan jawabannya termasuk dalam bentuk jawaban yang tersembunyi (hidden/tertutup). Karena dalam hal ini jumlah responden tidak terlalu besar maka questioner dilengkapi dengan teknik lainnya yaitu: observasi dan wawancara.

2.      Wawancara
Wawancara digunakan untuk mengetahui hal-hal dari responden secara lebih mendalam dengan memberi pertanyaan yang dapat dijawab secara langsung oleh wisatawan.

3.      Observasi
Observasi digunakan bila obyek penelitian merupakan prilaku manusia, proses kerja, gejala alam, dan responden kecil. Sugiyono  (1992 : 96). Angket maupun wawancara yang berisi persepsi wisatawan diambil pada saat pelaksanaan Upacara  Bakar Tongkang. Angket dapat dipandang sebagai suatu teknik pengumpulan data yang banyak mempunyai kesamaan dengan wawancara, kecuali dengan pelaksanaannya.

5.   Waktu dan Tempat Penelitian
1) Waktu Penelitian
Waktu yang diperlukan dan penelitian  adalah selama 5 Bulan dari tahap persiapan, pelaksanaan dan tahap analisa data, dimulai dari  Juni 2014 sampai dengan Oktober   2014.

2) Lokasi penelitian
Dilaksanakan  di  Bagansiapiapi  Kabupaten Rokan Hilir – Propinsi Riau.

F.  Analisis Hipotesis
Untuk  menjawab rumusan masalah maka penulis menggunakan model pengolahan data yaitu dengan metode kualitatif dan kuantitatif. Metode kualitatif sifatnya membandingkan beberapa teori dengan kenyataan dilapangan secara deskriptif. Sedangkan pengolahan data kuantitatif penulis menggunakan skala ranking. 
Data yang dikumpulkan dari dari hasil wawancara koesioner dapat dikelompokkan kedalam tiga langkah, yaitu : persiapan, tabulasi dan penerapan data pada pendekatan penelitian.
Persiapan adalah mengumpulkan dan memeriksa kelengkapan lembaran kuesioner serta memeriksa kebenaran cara pengisian. Melakukan tabulasi hasil koesioner dan memberikan nilai (scoring) sesuai dengan  sistem penilaian yang telah ditetapkan. Kuesioner tertutup dilakukan dengan menggunakan skala ordinal 5 Data hasil tabulasi 1 diterapkan pada pendekatan penelitian yang digunakan sesuai dengan tujuan penelitian. Sedangkan persepsi wiasatawan digunakan analisis skala likert yang diantaranya dapat digunakan melalui pernyataan, sangat puas, puas, tidak ada pendapat,  kurang puas, dan tidak puas, dengan  nilai skor berbobot, 5, 4, 3, 2 dan 1. 
Analisa kuantitatif, ditekankan untuk mengungkapkan perilaku variabel penelitian, sedangkan analisis deskriptif/kualitatif digunakan untuk mengetahui prilaku faktor penyebab dengan menggunakan  kombinasi  metode analisis tersebut, dapat diperoleh generalisasi yang bersifat komprehensif. Adapun untuk keperluan analisisa, ditempuh langkah-langkah sebagaimana yang dirancang dalam operasionalisasi variabel maka nilai variabel – variabel  data yang berskala ordinal dengan menggunakan tipe pertanyaan tertutup (closed end question) setiap item ditentukan peringkat dengan 5 alternatif jawaban. Pilihan jawaban responden merupakan nilai skor jawaban, nilai variabel diperoleh dari total skor jawaban dari setiap item di ranking untuk memperoleh nilai indeks yang dibutuhkan dalam mencari dasar pemecahan masalah dengan formulasi sebagai berikut:

Nilai Indeks = { (frekuensi  t.p x 1) + (frek. k.p. x 2) + (frek. t.a.p. x 3) + (frek. p.s  x  4) + (frek. s.p. x 5)}: 5

Keterangan :

1        = tidak puas (t.p)
2        = kurang puas (k.p)
3        = tidak ada pendapat (t.a.p)
4        = puas (p.s.)
5        = sangat puas (s.p.)
6        = tidak ada data
( Fredy Rangkuty, Riset Pemasaran,  hal 214,  Cet. ke V, 2002 )


G. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Bentuk Pelayanan dalam bidang Jasa Pariwisata Saat Upacara Bakar  Tongkang
1. Jasa Transportasi.
Secara spesifik peran jasa transportasi Transportasi antar daerah atau menuju Bagansiapiapi dilayani oleh dua moda transportasi yaitu Transpotasi darat (land transportation) dan tranportasi laut atau perairan (sea/water transportation).
Sebagian besar kunjungan wisatawan ke Bagansiapiapi umumnya mempergunakan transportasi darat. Angkutan didominasi oleh armada L300 (superbaen) dengan kapasitas tempat duduk 9 - 14 orang. Jumlah tempat duduk juga ditentukan oleh fasilitas kendaraan yakni ber AC atau Non AC. Saat ini terdapat 10 perusahaan travel regular yang melayani trayek ke Bagansiapiapi yang menghubungkan ke kota-kota seperti Pekanbaru, Medan, Duri, Dumai, Baganbatu dan lain-lain. Rute Pekanbaru - Bagansiapiapi PP merupakan trayek terbanyak yang  sehari rata-rata dilayani 12 angkutan travel dengan jadwal keberangkatan setiap pukul 08.00 dan  10.00, pukul 14.00 dan pukul 16.00. Sedangkan angkutan perairan hanya melayani rute dalam wilayah Rokan Hilir sendiri yaitu Bagansiapiapi - Panipahan, Bagansiapiapi - Pulau Halang dan Bagansiapiapi - Tanjung Lumba-lumba.
Pada saat diselenggarakannya Bakar Tongkang angkutan reguler yang rutin ke Bagansiapiapi otomatis tidak mampu melayani permintaan seat yang melonjak. Meskipun banyak diantara pengunjung yang mempergunakan angkutan pribadi atau angkutan carteran, kebutuhan angkutan umum tetap tinggi bahkan seminggu sebelum  acara berlangsung. Oleh karena itu pihak angkutan rata-rata menambah 3 sampai 5 unit L300 per hari untuk mengantisipasi lonjakan penumpang. (Yanti, 28 Tahun ; Penjual Tiket PO. Rokan Travel).
Fasilitas angkutan Travel ke Bagansiapiapi dibedakan oleh kualitas pelayanan angkutan yakni AC atau Non AC. Angkutan ekseklutif  dengan fasilitas AC memiliki kapasitas tempat duduk 9 penumpang. Sedangkan Non AC atau angkutan ekonomi bisa dimuat oleh 14 orang dengan 3 banjar tempat duduk dibelakang sopir. Tarif Travel AC rute Pekanbaru – Bagansiapiapi  perorang Rp. 85.000,- sedangkan non AC sebesar Rp. 45.000,- . Trayek Medan - Bagansiapiapi Rp. 115.000,- (non AC), dan Rp. 125.000,- untuk kendaraan AC. Kendaraan AC diperbolehkan masuk ke kota Bagansiapiapi untuk mengantar penumpang hingga ke rumah, sedangkan Superben non AC diharuskan menurunkan penumpang di terminal yang berada di Baganpunak. Untuk sampai ke tujuan akhir penumpang yang diturunkan di terminal dapat mempergunakan beca atau ojek sepeda motor dengan ongkos ke pusat kota rata-rata Rp. 10.000,- atau sesuai kesepakatan tawar-menawar. Pada saat kedatangan waktu malam beberapa angkutan diperbolehkan mengangkut penumpang kedalam kota tetapi masing-masing penumpang harus membayar kompensasi kepada angkutan lokal terutama kepada para tukang beca dengan besar ongkos antara Rp. 3000 s/d Rp. 5000,-. Angkutan lokal didominasi oleh beca  dan ojek yang banyak berseliweran ditengah kota atau menunggu penumpang di beberapa persimpangan yang menjadi semacam pangkalan seperti di simpang Jalan Gedung Nasional, Jalan Perniagaan, Jalan Merdeka, Jalan Kelenteng, Jalan Bintang, Jalan Skip, Jalan Siak dan lain-lain. 
Kehadiran event  Bakar Tongkang merupakan masa yang ditunggu –tunggu para pengemudi ojek dan beca, pada saat ini mereka mengalami masa panen. Para pengemudi ojek yang sehari hanya memperoleh penghasilan antara 30-60 ribu rupiah bisa meraih pendapatan 150 s/d 200 ribu rupiah. (Manjo, 42 Tahun; Pemilik/Pengemudi ojek).
Beberapa pemilik ojek kepada penulis mengaku malah hanya menyewakan ojeknya untuk dipakai sendiri oleh pengunjung dengan tarif perhari rata-rata 100 ribu rupiah. Bisnis penyewaan kendaraan saat upacara Bakar Tongkang di Bagansiapiapi relatif aman karena melalui orang-orang yang dipercaya para pemilik ojek.  Kendaraan yang umumnya diminati adalah sepeda motor bebek karena lebih mudah  dikendarai oleh pengunjung.


2.  Jasa Akomodasi
Kondisi prasarana akomodasi di Bagansiapiapi adalah kelas melati. Jenis kamar yang dimiliki dibedakan dengan sebutan oleh kamar ekonomi dan kelas VIP atau AC. Kelas ekonomi hanya dilengkapi dengan kipas angin, kadang kala kamar mandi berada diluar kamar sedangkan kamar eksekutif/VIP umumnya dilengkapi dengan fasilitas tempat tidur (springbed, bed cover + Selimut), televisi, telepon antar kamar/via operator, kamar mandi dalam kamar, lemari dll.
Menjelang pelaksanaan Bakar Tongkang hotel-hotel mengantisipasi lonjakan pengunjung dengan merenovasi atau memperbaharui kamar dan fasilitas – fasilitas yang kurang berfungsi diwaktu biasa. Hal ini dikarenakan diluar masa acara Bakar Tongkang,  kamar-kamar hotel di Bagansiapiapi agak sepi pengunjung. Disaat itu manajemen hotel di Bagansiapiapi umumnya membatasi pengunjung non Bakar Tongkang, yang hanya ditoleransi hingga sehari sebelum pengunjung yang terdaftar masuk. Hal ini wajar karena kamar hotel jauh-jauh hari telah dibooking oleh pengunjung Bakar Tongkang yakni antara 1-2 dua bulan sebelum acara.  (Gina, 23 Tahun; Karyawan Front Office Hotel Bagan). Pelayanan akomodasi yang disediakan di kota kecil seperti Bagansiapiapi merupakan pelayanan hotel melati, dimana tidak tersedia sarapan atau layanan yang memadai. Untuk mengatasi kekurangan prasarana akomodasi masyarakat umum juga menyewakan kamar atau rumahnya untuk dipakai oleh pengunjung. 

3.      Jasa Makan Minum
Komponen lainnya yang sangat penting dalam mendukung industri pariwisata adalah jasa makan minum (Meals and beverages). Fasilitas restoran dan kafe di Bagansiapiapi menyediakan beraneka ragam makanan seperti makanan khas Indonesia seperti masakan melayu dan masakan minang. Selain itu seafood dan masakan Cina dengan mudah dijumpai diberberapa sudut kota. Di Bagansiapiapi gerai-gerai makanan umumnya terletak di pusat kota dalam radius ±300 meter dari kelenteng In Hok Kiong. Disini sejak sore pedagang makanan mulai mengelar dagangannya di pinggiran jalan dan trotoar terutama dijalan-jalan utama seperti di Jalan Merdeka, Jalan Klenteng, Jalan Gedung Nasional, Jalan Aman, Jalan Sentosa dan Jalan Perdagangan. Sedangkan minuman yang tawarkan cafe-café di Bagansiapiapi selain kopi adalah air tahu, air limau dan aneka jus. Keberadaan jenis makanan dan minuman khas daerah yang lezat, dengan penampilan dan penyajian yang menarik selain merupakan sarana yang berperan penting dalam pengembangan industri pariwisata dan dapat dijadikan jati diri (identitas) bangsa.
Tingginya kunjungan wisatawan baik domestik maupun mancanegara ke Bagansiapiapi terutama saat diselenggarakannnya event   besar seperti Bakar Tongkang menjadi peluang yang sangat potensial untuk dimanfaatkan masyarakat Bagansiapiapi berjualan makanan dan minuman karena tingginya permintaan. Karena wisatawan dalam Bakar Tongkang hampir keseluruhannya merupakan orang keturunan Tiongkok, maka semestinya makanan yang perlu dipersiapkan adalah jenis masakan Cina atau Indonesia yang umumnya mereka senangi. Begitu pula keberadaan Bagansiapiapi yang telah lama dikenal sebagai kota ikan, tentunya seafood paling cocok untuk disediakan.
Keanekaragaman makanan dan minuman ada di Bagansiapiapi menurut penulis belum dapat memenuhi keseluruhan faktor diatas. Produk-produk yang ada baru diolah secara sederhana  atau beberapa jenis masakan saja. Kedepan perlu digali masakan khas yang dapat lebih memberi pilihan dan cita rasa yang menarik minat  dan selera wisatawan. Faktor lain yang tidak kalah penting adalah legalitas makanan yang disahkan oleh fihak terkait seperti kesehatan makanan dari dinas kesehatan dan label halal dari Majelis Ulama Indonesia ini arena tidak hanya wisatawan ketururunan Cina Bagansiapiapi saja yang menikmati makanan khas tersebut.

4. Jasa Cenderamata
Sudah merupakan suatu kebutuhan disetiap kunjungan wisata, wisatawan memerlukan cenderamata sebagai kenangan atau oleh-oleh untuk dibawa pulang. Keberadaan cenderamata di Bagansiapiapi masih sangat terbatas. Umumnya masih didominasi oleh makanan–makanan ringan. Cenderamata lain yang sudah mulai berkembang di Bagansiapiapi adalah kerajinan miniatur kapal kayu. Miniatur kapal ini meniru keberadaan kapal yang pernah diproduksi galangan kapal kayu di Bagansiapiapi. Ukuran setiap kapalnya masih tergolong cukup besar yakni berukuran 1 s/d 1,5 meter, dengan harga yang masih tergolong mahal diantara  Rp. 500.000,- s/d Rp. 3.000.000,- setiap unit, tergantung ukuran dan tingkat kesulitan model yang dibuat.
Tingginya permintaan cenderamata pada masa diselenggarakannya Bakar Tongkang, tidak membuat peluang bisnis cenderamata yang sangat menjanjikan tersebut ditanggkap secara optimal oleh masyarakat Bagansiapiapi. Hal ini terlihat dari sedikitnya produsen yang menghasilkan cenderamata jika ada umumnya dilakukan oleh pengusaha home indrustri yang telah ada sejak lama. Beberapa jenis tren mark produk kota ini justru semakin menghilang seperti Kecap dan Tauco sudah kurang diminati sejalan dengan berubahnya waktu.
Selain dari jenis makanan beraneka ragam cendramata dari bahan lainnya dapat disediakan seperti tekstil seperti kaos, batik, dan tenun. Produk anyaman, tekat dan sulaman. Pernik-pernik dan gantungan kunci, hiasan meja dan dinding  dari bahan kerang-kerangan, kayu, logam dan fiberglas. Selain itu terbatasnya cenderamata yang dihasilkan masyarakat Bagansiapiapi menyebabkan kunjungan wisatawan ke Bagansiapiapi menjadi kurang dapat dinikmati manfaatnya oleh masyarakat khususnya dari sisi pendapatan  dari berbelanja cenderamata. 

5. Jasa Hiburan
Karena tidak adanya sarana dan prasana hiburan (entertainment) seperti karaoke, diskotik atau live music di Bagansiapiapi, praktis keadaan tersebut tidak memberikan pendapatan bagi masyarakat dari bisnis tersebut. Hiburan yang ada justru hanya hiburan rakyat yang khusus diperuntukkan dalam rangka memeriahkan acara Bakar Tongkang tersebut. Sebuah Panggung besar dipasang di ruas Jalan Klenteng tepat di depan Klenteng In Hok Kiong. Pada hiburan ini didatangkan para seniman yang terdiri  musisi dan artis-artis mandarin dari dalam maupun dari luar negeri sehingga suasana hiburan tersebut lebih mirip perayaan yang diselenggarakan di tanah leluhur mereka. Dengan keadaan tersebut secara otomatis keramaian pengunjung menumpuk di tengah kota terutama di halaman Klenteng In Hok Kiong. Sedangkan untuk menghilangkan kejenuhan pengunjung lainnya menghabiskan waktu untuk berkeliling kota dengan berboncengan sepeda motor, atau berjalan kaki. Rute yang cukup padat dan digemari pelancong umumnya sepanjang Jalan Perniagaan-Perdagangan, Jalan Pahlawan, Jalan Gedung Nasional, Jalan Sentosa dan lain sebagainya. Aksi keliling kota ini berlangsung hingga larut malam. Saat menjelang pagi saat para pengunjung bergerak menuju halaman Klenteng In Hok Kiong untuk melakukan persembahyangan yang waktunya masuk setelah pukul 00.00 WIB. 

6.  Jasa Obyek wisata dan Jasa Pariwisata lain
Prasarana obyek wisata di Rokan Hilir belum begitu dikelola dengan baik, bahkan beberapa situs yang potensial untuk dijadikan obyek wisata khususnya di Bagansiapiapi. Obyek wisata tersebut terutama obyek peninggalan sejarah seperti bangunan tua antara lain Kantor Bea Cukai yang dibangun pada tahun 1901, bangunan bekas kantor kontelir yang kemudian menjadi kantor wedana Bagansiapiapi (1905) serta bagunan rumah sakit umum (1910). Selain itu ada bekas pelabuhan Bagansiapiapi yang sisa besi-besinya telah pula dipotong-potong sehingga tidak lagi dapat disaksikan dengan baik. Sedangkan obyek wisata peninggalan sejarah lainnya yang masih selamat banayak pula yang tidak dirawat dan terancam rubuh.  Satu-satunya prasarana pariwisata yang dapat dimanfaatkan oleh masayarakat Bagansiapiapi adalah kolam renang  yang menjadi tempat alternatif untuk berwisata dimana tempat ini dikelola oleh penduduk setempat. Sulitnya sumber air bersih menjadi kendala utama mahalnya investasi kolam tersebut. Untuk memperoleh air dilakukan pengeboran yang cukup dalam hingga mencapai 200 s/d 400 meter. Mengingat Bagansiapiapi dahulunya merupakan wilayah laut yang telah menjadi daratan, oleh sebab itu air tanah yang berada pada lapisan bumi yang dangkal rasanya asin.

B. Tingkat Pelayanan Produk Jasa Pariwisata saat Pelaksanaan Upacara Bakar Tongkang (Gogecaplak) di Bagansiapiapi . 
1.      Jasa Transportasi.
Tanggapan responden terhadap tingkat pelayanan jasa pariwisata dari komponen pelayanan jasa Transportasi di Bagansiapiapi dilperoleh melalui sampel yang diambil, dengan jumlah responden 40 orang. Sampel adalah mereka yang menggunakan jasa transportasi ke Bagansiapiapi (superben), didukung  pengguna transportasi lokal (becak dan ojek).  Tingkat Pelayanan yang ketahui melalui kepuasan wisatawan dari total pelayanan transportasi diolah dalam tabel berikut :


Tabel .3

Tingkat Pelayanan Jasa  Transportasi saat Pelaksanaan Upacara Bakar Tongkang di Bagansiapiapi.
Variabel
Kepuasan %
Nilai Indeks
1
2
3
4
5
6
Tangible (berwujud)
5,0
32,5
30,0
17,5
7,5
7,5
53,5
Reliability (kehandalan).
2,5
20,0
30,0
32,5
12,5
2,5
65,0
Responsiviness (daya tanggap).
7,5
17,5
27,5
32,51
12,5
2,5
71,0
Assurance (keyakinan/ kepercayaan).
7,5
30,0
45,0
15,0
0,0
2,5
52,5
Empathy (empati).
2,5
45,0
45,0
2,5
0,0
5,0
47,5
Total rata-rata (100%)
6,0
30,4
35,5
20,1
6,5
17,5
57,9

Sumber : Data olahan
Berdasarkan tabel 3 pelayanan jasa angkutan wisata yang dipergunakan oleh wisatawan tercermin dari variabel Responsiviness sudah cukup baik (71,0), respons yang diberikan kepada wisatawan saat membutuhkan pelayanan angkutan dapat ditanggapi secara baik oleh angkutan wisata disamping itu variabel reability (kehandalan),dalam hal   pencapaian waktu untuk mengunjungi Bagansiapiapi sudah mencerminkan waktu perjalanan yang diharapkan.  Selain fisik kendaraan yang dioperasikan cukup baik, kondisi jalan yang sudah mulai bagus mempengaruhi kelancaran dalam perjalanan khususnya ruas jalan menuju Bagansiapiapi. Ketepatan waktu juga sangat dipengaruhi oleh faktor kedisiplinan driver maupun penumpang sehingga waktu yang dipergunakan didalam perjalanan cukup optimal. Sedangkan yang perlu mendapat perhatian adalah variabel emphaty indikator pelayanan terhadap keluhan wisatawan dianggap masih sangat rendah (47,5 %), hal ini perlu mendapat perhatian yang serius bagi pengusaha jasa angkutan, tingkat pelayanan yang diberikan kepada pengguna angkutan masih belum mencerminkan pengorbanan yang mereka keluarkan sesuai tingkat harga yang ditentukan. Sebagai contoh adanya fasilitas yang tidak berfungsi, AC yang kurang dingin, tempat duduk yang kaku (tidak reclining seat), banyaknya tumpukan barang di bagasi dan kabin yang bukan milik penumpang yang mempengaruhi kenyaman, tape yang tidak hidup dan lain sebagainya. Menyangkut kenyamanan dan keamanan,(Variabel tangible/wujud) masih belum dapat dikatakan baik, tindakan beberapa oknum preman diterminal dan di gerbang masuk kota Bagansiapiapi yang meminta pungli sangat mengganggu wisatawan, selain mengganggu, tindakan tersebut dapat merusak citra Bagansiapiapi sebagai tempat tujuan wisata khususnya wisata budaya event   Bakar Tongkang.  
2. Jasa Akomodasi 
Tanggapan responden terhadap tingkat pelayanan produk jasa pariwisata dari komponen jasa akomodasi di Bagansiapiapi dilakukan melalui  sampel yang diambil dari sejumlah responden.  Tingkat kepuasan wisatawan dari jawaban 40 orang responden  diolah dalam tabel berikut : 
Tabel 4. 
Tingkat Pelayanan pada Jasa Akomodasi saat Pelaksanaan  Upacara Bakar Tongkang di Bagansiapiapi.


Variabel
Kepuasan
Nilai Indeks
1
2
3
4
5
6
Tangible (berwujud)
7,5
35,0
10,0
40,0
0,0
7,5
53,5
Reliability (kehandalan).
0,0
22,5
12,5
52,5
10,0
2,5
61,0
Responsiviness (daya tanggap).
2,5
17,5
15,0
50,0
2,5
12,5
59,0
Assurance (keyakinan/ kepercayaan).
7,5
45,0
17,5
25,0
5,0
0,0
55,0
Empathy (empati).
5,0
45,0
7,5
40,0
0.0
2,5
59,5
Total rata-rata (100%)
3,1
33,1
12,5
41,5
3,5
5,0
57,5

Sumber : Data olahan
Tingkat pelayanan jasa akomodasi di Bagansiapiapi seperti yang tergambar pada tabel 4. secara umum belum menunjukkan tingkat pelayanan seperti yang diharapkan wisatawan (57 %). Tingkat Tangible (wujud)  pelayanan yang hanya 53,5 %, yang meliputi keserasian masih belum memenuhi keinginan yang diharapkan wisatawan, seperti lingkungan hotel, ukuran dan interior kamar, kondisi air dan sebagainya. Segi kenyamanan juga bermasalah terutama menyangkut tingkat kebisingan Hotel-hotel yang berada dipusat kota mengalami tingkat kebisingan yang tinggi, baik suara kendaraan bermotor maupun suara pemikat walet dari gedung-gedung disekitar hotel cukup mengganggu wisatawan. Fasilitas pendukung seperti fasilitas kamar dan fasilitas umum lainnya seperti perabotan (lemari pakaian, meja, TV, telepon, kulkas dll)  juga masih perlu diperhatikan dimasa yang akan datang  termasuk fasilitas sarapan pagi. Sedangkan pelayanan lain terutama kebersihan secara keseluruhan sudah cukup baik, meskipun beberapa hotel tertentu masih perlu meningkatkan kebersihannya termasuk lingkungan sekitar hotel tersebut.
Begitu pula dalam hal assurance (keyakinan/kepercayaan) Sumberdaya manusia akomodasi masih rendah meliputi keramahtamahan, kecekatan, kepahaman informasi pariwisaha serta informasi yang dapat memberikan keamanan kepada wisatawan masih minim (55,0 %). Pelayanan yang sudah mulai agak baik adalah reability (kehandalan) sebesar 61 % disusul responsibilitas (59,5 %). Prosedur pesanan sudah cukup cepat dan mudah (reability) meskipun dalam hal menyelesaikan keluhan pelanggan (responsibilitas) masih dijumpai banyak kekurangan.

3. Jasa Makan Minum 
Tanggapan responden terhadap tingkat pelayanan jasa pariwisata dari komponen pelayanan jasa makan minum (meals and beverages) di Bagansiapiapi dilakukan melalui sample yang diambil dari responden sebanyak 40 orang. Dari jumlah jawaban yang diperoleh diolah dalam tabel berikut : 
Tabel 5
Tingkat Pelayanan pada Jasa Makan minum (meals & beverages) saat Pelaksanaan Upacara Bakar Tongkang di Bagansiapiapi.


Variabel
Kepuasan %
Nilai Indeks
1
2
3
4
5
6
Tangible (berwujud)
0,0
15,0
12,5
45,0
22,5
5,0
68,6
Reliability (kehandalan).
0,0
10,0
42,5
35,0
2,5
10,0
59,0
Responsiviness (daya tanggap).
2,5
17,5
20,0
55,0
0,0
5,0
63,5
Assurance (keyakinan/ kepercayaan).
2,5
15,0
35,0
32,5
5,0
2,5
56.5
Empathy (empati).
0,0
30,0
37,5
30,0
12,5
0,0
65,5
Total rata-rata (100%)
1,0
16,5
27,9
39,5
8,5
4,5
62,6

 
Sumber : Data olahan 
Berdasarkan tabel 5 tersebut diatas dengan melihat nilai ranking variabel pada jasa makan minum (meal and beverages) rata-rata 62,5 %, wujud pelayanan (tangible) yang cukup baik 68,6 %, memberikan kepuasan kepada wisatawan terutama dalam hal cita-rasa makanan,  disamping itu keaneka ragaman jenis dan variasinya cukup banyak, segi kenyamanan dan harga juga sudah  tidak masalah. Yang masih rendah tingkat pelayanan makanan adalah dalam hal assurance (kepercayaan/keyakinan) sebesar 56,5%. Dalam hal Hiegenitas makanan, wisatawan masih banyak yang was-was karena kurangnya informasi tentang makanan. Pelayanan lain yang masih sangat perlu ditingkatkan yakni dalam hal responsiviness (ketanggapan) 63,5 %,  dalam penyajian makanan seperti keramahan, kecekatan, penampilan pelayan serta keterampilan dalam penyajian perlu mendapat perhatian untuk ditingkatkan dimasa mendatang. 
4. Jasa Cenderamata 
Tanggapan responden terhadap tingkat pelayanan jasa pariwisata dari komponen pelayanan jasa kenangan (cenderamata) di Bagansiapiapi dilakukan melalui sampel yang diambil dari responden sebanyak 40 orang.  Tingkat Pelayanan Cenderamata diperoleh dari total kepuasan wisatawan diolah dalam tabel berikut : 
Tabel 6.
 Tingkat Pelayanan pada Jasa Cenderamata saat Pelaksanaan Upacara Bakar Tongkang di Bagansiapiapi.


Variabel
Kepuasan %
Nilai Indeks
1
2
3
4
5
6
Tangible (berwujud)
5,0
17,5
22,5
40,0
5,0
10,0
58,5
Reliability (kehandalan).
5,0
20,0
25,0
35,0
7,5
7,5
54,7
Responsiviness (daya tanggap).
2,5
25,0
20,0
47,5
0,0
5,0
60,5
Assurance (keyakinan/ kepercayaan).
2,5
20,0
32,5
40,0
0,0
5,0
60,0
Empathy (empati).
2,5
20,0
40,0
32,5
0,0
5,0
58,5
Total rata-rata (100%)
3,5
20,5
28
39
2.5
6.5
58,4

Sumber : Data olahan


Berdasarkan tabel Tabel 6.. Tingkat pelayanan rata-rata Cenderamata pada saat Upacara bakar Tongkang di Bagansiapiapi hanya 58,4 %,  Tangible (wujud) kerajinan khas Bagansiapiapi tergolong masih rendah 58,5 % walaupun sudah memiliki kualitas yang cukup baik dan merupakan ranking tertinggi dibandingkan indikator lainnya namun karena keberadaannya masih sulit didapat karena terbatasnya souvenir shop sementara itu cenderamata harus dipesan dalam waktu yang lama serta terbatasnya jenis dan variasi menjadikan rangking reability (ketanggapan) hanya 54,7 %. Secara umum cenderamata atau oleh-oleh yang terdapat di Bagansiapiapi terutama miniatur kapal Bagansiapiapi cukup unik dan menarik. Namun demikian yang masih perlu diperhatikan adalah dalam hal simplikasi atau kesederhanaan ukuran. Ukuran miniatur yang panjangnya berkisar antara 1 s/d 1,5 meter masih tergolong besar sebagai cenderamata karena agak menyulitkan pembeli untuk membawa pulang, selain itu faktor ukuran turut mempengaruhi biaya angkutan. 
Keberadaan jenis cenderamata di Bagansiapiapi saat ini masih didominasi oleh makanan ringan (kue/snack) serta beberapa macam produk pengolahan hasil laut. Selain itu secara terbatas terdapat pula sejenis pakaian batik dengan disain khas Bagansiapiapi. Kedepan perlu terus dikembang berbagai jenis potensi cenderamata baik yang telah dikembangkan maupun yang belum seperti kaos dan gantungan kunci mengingat pasarnya cukup menjanjikan terutama saat pelaksanaan Upacara Bakar Tongkang. 

5. Jasa Hiburan  
Tanggapan responden terhadap tingkat pelayanan jasa pariwisata dari komponen pelayanan jasa hiburan (entertainment) di Bagansiapiapi dilakukan melalui sample yang diambil dari responden sebanyak 40 orang.  Tingkat kepuasan wisatawan diperoleh dari total kepuasan pelayanan jasa hiburan yang ada di Bagansiapiapi saat diselenggarakannya upacara Bakar Tongkang. Akan tetapi karena  keterbatasan hiburan komersial yang ada dikota ini maka penulis hanya membatasi saja hiburan yang disediakan secara cuma-cuma (hiburan rakyat) yang diselenggarakan masyarakat Bagansiapiapi selama penyelenggaraan Upacara Bakar Tongkang. Dari jumlah jawaban responden diperoleh data yang disajikan dalam tabel berikut : 
Tabel 7 
Tingkat Pelayanan pada Jasa Hiburan saat Pelaksanaan Upacara Bakar Tongkang di Bagansiapiapi.
 
Variabel
Kepuasan %
Nilai Indeks
1
2
3
4
5
6
Tangible (berwujud)
0,0
22,5
27,5
40,0
10,0
2,5
67,5
Reliability (kehandalan).
7,5
22,5
40,0
27,5
0,0
2,5
56,0
Responsiviness (daya tanggap).
2,5
37,5
22,5
25,0
7,5
5,0
55,5
Assurance (keyakinan/ kepercayaan).
2,5
32,5
30,0
30,0
0,0
5,0
55,5
Empathy (empati).
0,0
25,0
47,5
17,5
2,5
7,5
53,0
Total rata-rata (100%)
2,4
28,0
33,4
23,4
4,0
4,5
57,5

Sumber : Data olahan
 
Berdasarkan Tabel .7 Faktor keamanan menjadi indikator tertinggi wujud (tangible) jasa hiburan sehingga memberikan kontribusi yang besar terhadap variabel ini (67,5 %). Lokasi yang dijadikan tempat hiburan rakyat dijaga dengan ketat oleh aparat Kepolisian dan Satpol PP menyebabkan acara berlangsung dengan lancar dan aman. Tindakan kriminal seperti ganguan preman dan copet hampir tidak pernah terjadi. Sehingga sampai dinihari sekalipun pengunjung tetap bertahan sampai acara selesai.  Selain itu indikator menarik, tertib dan mudah dicapai  juga merupakan indikator yang penting dalam hal variabel reability/kehandalan (56,0 %). Hal ini dikarenakan hiburan yang disediakan terletak di pusat kota dan relatif mudah untuk dijangkau dari berbagai penjuru kota Bagansiapiapi dan berlangsung secara tertib, jauh dari kesan semrawutan/urakan. Wisatawan juga cukup merasa nyaman meskipun harus berjejalan di ruang terbuka, hanya sebagian pengunjung khususnya tamu tertentu yang disediakan tempat duduk didepan panggung hiburan.   
6. Jasa Obyek Wisata dan Jasa Pariwisata lain 
Tanggapan responden terhadap tingkat pelayanan pariwisata dari komponen pelayanan obyek wisata dan jasa pariwisata lain di Bagansiapiapi dilakukan melalui sampel yang diambil dari responden sebanyak 40 orang.  Tingkat kepuasan wisatawan diperoleh dari total kepuasan wisatawan terhadap jasa rekreasi dan jasa pariwisata lain di olah dalam tabel berikut :
Tabel 8 
Tingkat Pelayanan pada Jasa Obyek Wisata dan Jasa Pariwisata lain saat Pelaksanaan Upacara Bakar Tongkang di Bagansiapiapi.
Variabel
Kepuasan %
Nilai Indeks
1
2
3
4
5
6
Tangible (berwujud)
5,0
20,0
32,5
27,5
0,0
15,0
50,5
Reliability (kehandalan).
2,5
22,5
45,0
22,5
0,0
7,5
54,5
Responsiviness (daya tanggap).
5,0
45,0
20,0
17,5
0,0
12,5
40,0
Assurance (keyakinan/ kepercayaan).
17,5
30,0
27,5
22,5
0,0
2,5
49,0
Empathy (empati).
5,0
20,0
35,0
27,5
0,0
12,5
52,0
Total rata-rata (100%)
7,0
27,5
32,0
23,5
0,0
10,0
49,2
 
Sumber : Data olahan 
Bila diperhatikan hasil analisis pada tabel 8 diatas, tingkat kepuasan wisatawan terhadap jasa obyek wisata dan jasa pariwisata lainnya secara keseluruhan rendah,  karena hasil analisis rata-rata variabel kurang dari 50 %.  Hal tersebut dipicu oleh ketidak puasan wisatawan terhadap perlakuan pemerintah setempat terhadap obyek wisata  terutama situs peninggalan Belanda dan Cina yang tidak dirawat, bahkan satu-persatu dihilangkan atau digantikan dengan bangunan baru antara lain Kantor Bea Cukai, kantor Kontelir, rumah sakit, dan lain-lain. Sedangkan sisa-sisa pelabuhan lama Bagansiapiapi telah digusur untuk pelebaran jalan. Oleh karena itu pemanfaatan dan perlindungan obyek wisata sejarah dalam kota Bagansiapiapi hampir tidak ada. Indikator yang mempunyai nilai indek paling tinggi adalah pencapaian  pada variabel reability/kehandalan (54,0 %). Keberadaan jasa sarana wisata seperti tempat rekreasi satu-satunya hanya kolam renang yang lokasinya relatif mudah dijangkau karena berada di dalam kota Bagansiapiapi. Aspek kenyamanan terutama pada hari pembakaran Tongkang mencapai titik terendah, karena dapat dipastikan Kota Bagansiapiapi akan diselimuti asap hio yang dibakar oleh ribuan peziarah yang melakukan persembahyangan. Udara kota menjadi kurang nyaman karena debu sisa pembakaran hio dan kertas sesembahan menyesakkan pernapasan dan membuat mata perih. 

H. KESIMPULAN DAN SARAN  
1.  Kesimpulan    
Sebagai kesimpulan dari hasil penelitian penulis menyimpulkan beberapa hal antara lain : 
a. Kunjungan wisatawan ke Bagansiapiapi pada saat penyelenggaraan Upacara Bakar Tongkang memberikan manfaat bagi masyarakat Bagansiapiapi khususnya mereka yang menyediakan pelayanan jasa Pariwisata  seperti transportasi, akomodasi, makan minum, cenderamata, hiburan, Obyek wisata dan jasa Pariwisata lainnya. 
b. Kualitas pelayanan jasa pariwisata yang disediakan oleh masyarakat Bagansiapiapi dapat dilihat dari tingkat kepuasan wisatawan terhadap pelayanan yang mereka terima. 
c.Tingkat jasa pariwisata yang tercermin dari variabel-variabel yang ada masih rendah dengan rata-rata pelayanan secara keseluruhan hanya 57,18 %. Tingkat pelayanan terendah ada pada Jasa Obyek Wisata dan Jasa Pariwisata lain sebesar 40 % (variabel responsiviness /daya tanggap)  dan pelayanan tertinggi  (71 % ) ada pada variabel responsiviness (daya tanggap) jasa transportasi. Pelayanan jasa yang dikategorikan rendah hampir merata di seluruh produk jasa kecuali pelayanan makan dan minum yang dinilai  sudah cukup baik. 

2.  Saran-Saran 
Bertolak dari hasil penelitian yang telah lakukan penulis menyampaikan saran-saran sebagai berikut : 
a. Perlu dibentuk organisasi profesi pada masing-masing jasa pariwisata di Kabupaten Rokan Hilir khususnya di Bagansiapiapi seperti PHRI, ASITA, PUTRI dan lain-lain untuk memacu terciptanya pelayanan pariwisata dan pengaturan standarisasi jasa secara kelembagaan. 

b. Untuk menyamakan persepsi pengembangan kepariwisataan secara terpadu, simultan dan terorganisir perlu dilakukan program kegiatan kepariwisataan daerah oleh Pemerintah Daerah dengan bekerjasama/melibatkan komponen penyedia jasa pariwisata dalam hal edukasi/pelatihan, pengelolaan, pendampingan, pameran dan promosi. 

c. Perlu gerakan kesadaran yang melibatkan masyarakat pariwisata, masyarakat umum, sekolah-sekolah dan lain sebagainya dengan memasyarakatkan misi sapta pesona sebagai pola hidup lingkungan masyarakat. 

d. Perlu upaya nyata untuk melestarikan dan menjadikan peninggalan-peninggalan bersejarah di Bagansiapiapi sebagai obyek wisata sejarah untuk mendukung kegiatan pariwisata khususnya di Bagansiapiapi yang dianggap memiliki kejayaan sejarah masa lalu. 

No comments:

Post a Comment