Tuesday, July 28, 2015

UPAYA DINAS KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA MEMPROMOSIKAN MASJID RAYA PULAU PENYENGAT SEBAGAI DAERAH TUJUAN WISATA DI TANJUNG PINANG KEPULAUAN RIAU

Oleh : Sefrona Syaiful, SH., MM & Achmad Syech



1.   Latar Belakang Masalah
Pariwisata dan budaya Indonesia dapat dijadikan sebagai suatu sumber industri pariwisata pendapatan negara dari sektor non migas. Hal ini didukung oleh potensi pariwisata alam, budaya dan peninggalan sejarah yang dimiliki Indonesia. Sebagai penghasil devisa negara, pariwisata melalui perbaikan dan penyempurnaan sarana dan prasarana objek wisata diharapkan mampu membuat kunjungan wisatawan terus meningkat.  Indonesia merupakan negara yang kaya akan hasil alam yang dibarengi keindahan alam yang sangat menarik. Banyak orang dari negara luar datang ke Indonesia untuk menikmati keindahan alam yang dalam konteks kepariwisataan mereka datang sebagai  wisatawan. Melihat kondisi ini pemerintah mencanangkan sektor pariwisata sebagai andalan kegiatan ekonomi setelah migas. Pengembangan sektor pariwisata dewasa ini terasa sangat penting karena berkaitan dengan penerimaan devisa negara dan menciptakan peluang terbukanya lapangan pekerjaan baru. Disamping itu juga untuk memperkenalkan alam dan kebudayaan Indonesia.
Salah satu faktor pendukung pertumbuhan pariwisata di Indonesia adalah dengan diimbangi oleh pengembangan dunia pariwisata. Keberadaan Pariwisata  suatu daerah sangat mempengaruhi perkembangan kepariwisataan di daerah tersebut. Dalam menghadapi arus wisatawan, pihak pengelola terutama Dinas Pariwisata yang terkait  perlu mempersiapkan diri sebaik mungkin, baik dari segi objek wisata, akomodasi, transportasi serta fasilitas yang mendukung.
Provinsi Kepulauan Riau merupakan salah satu daerah tujuan wisata di Indonesia yang mempunyai objek-objek wisata yang cukup potensial untuk dikembangkan. Mulai diberlakukannya otonomi daerah oleh pemerintah pusat pada awal tahun 1998, membuat pemerintah provinsi Kepulauan Riau semakin gencar melakukan pembangunan di berbagai sektor, termasuk sektor pariwisata.
Propinsi Kepulauan Riau dengan Ibukota Tanjung Pinang Merupakan Provinsi yang cukup berkembang dengan pesatnya. Di Provinsi Kepulauan Riau pemerintahnya melakukan pengembangan-pengembangan kawasan pariwisata dengan cara menarik minat investor dan memberikan kemudahan-kemudahan bagi mereka melalui peraturan-peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah setempat. Diharapkan dengan demikian kepariwisataan di Provinsi Kepulauan Riau dapat berkembang dengan baik.
            Pariwisata merupakan salah satu alternatif dalam meningkatkan ekonomi di Provinsi Kepulauan Riau, karena dengan mengembangkan sektor ini diharapkan banyak wisatawan yang berkunjung ke Kepulauan Riau yang dengan sendirinya akan membawa devisa untuk dibelanjakan di negeri ini dengan mengupayakan pengembangan dan pemanfaatan potensi wisata yang dimiliki daerah dalam wujud kekayaan alam yang indah, keragaman flora dan fauna, kemajemukan tradisi dan seni budaya serta peninggalan sejarah dan purbakala.
Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor : 130-67 Tahun 2002 tentang pengakuan kewenangan Kabupaten/Kota Provinsi menyangkut tentang kepariwisataan disebutkan bahwa masalah pengaturan dan pengelolaan objek dan daya tarik wisata serta penetapan inventarisasi potensi objek dan kawasan wisata merupakan kewenangan pemerintah daerah Kota/Kabupaten.
Salah satu kota di Provinsi Kepulauan Riau yang sedang berkembang adalah kota Tanjung Pinang. Di kota Tanjung pinang terdapat berbagai macam objek wisata seperti wisata religi, wisata sejarah, wisata budaya, wisata kuliner, agro wisata dan sarana wisata. Hal ini membuat pemerintah provinsi Kepulauan Riau melalui dinas-dinas terkait dan investor bisnis pariwisata memikirkan alternatif lain di bidang pariwisata yaitu menjadikan Provinsi Kepulauan Riau sebagai kota bisnis wisata di pulau Sumatera. Guna mendukung semua itu pemerintah provinsi Kepulauan Riau bekerja sama dengan para investor membangun sarana-sarana yang mendukung kegiatan kepariwisataan tersebut, seperti perbaikan sarana prasarana dilokasi daerah tujuan wisata seperti hotel-hotel berbintang bertaraf internasional serta bermacam - macam pusat pembelanjaan.
Dimana dalam konteks wilayah kota Tanjung Pinang memiliki sebuah pulau yaitu Pulau Penyengat. Pulau Penyengat ini terletak di sebelah barat kota Tanjung Pinang. Secara astronomi Pulau Penyengat terletak pada O056’ LU dan 104029’ BT dengan panjang 2 km, lebar 1 km. Pulau Penyengat ini sering disebut dengan istilah Pulau Maskawin karena pulau ini merupakan Maskawin Sultan Mahmudsyah untuk Engku Puteri Raja Hamidah. Pulau Penyengat dikenal dengan nama Pulau Penyengat Indra Sakti.
Dari sekian banyak objek wisata di kota Tanjung Pinang, yang paling memliki nilai sejarah dan keunikan tersendiri adalah Mesjid Raya Pulau Penyengat, untuk mengunjungi objek wisata Masjid Raya Pulau Penyengat, hanya memerlukan waktu sekitar 30 menit dari pusat kota dengan menggunakan kendaraan umum, atau kendaraan pribadi dan dilanjutkan dengan perahu motor kecil (kapal pompong) karena objek tersebut ada di seberang Pulau Tanjung Pinang, objek wisata ini biasanya ramai dikunjungi pada saat akhir pekan atau hari libur. Wisatawan yang datang pun beragam, baik yang dari dalam provinsi Kepulauan Riau sendiri maupun dari luar provinsi Kepulauan Riau. Dalam hal jumlah pengunjung, dapat dikatakan setiap hari pasti ada pengunjung tetapi tidak seperti yang diharapkan oleh pihak pengelola maupun dari pihak pemerintah selaku pembina sarana dan prasarana kepariwisataan namun untuk beribadah sholat tetap berjalan seperti biasanya.
Berbagai upaya untuk menjadikan Masjid Raya Pulau Penyengat sebagai objek wisata religi di provinsi Kepulauan Riau, telah dilakukan oleh pihak pengelola dan pemerintah daerah antara lain melakukan promosi baik kepada wisatawan domestik maupun wisatawan internasional ini dilakukan agar tingkat kunjungan wisatawan yang datang dapat seperti yang diharapkan. 
Adapun perkembangan tingkat kunjungan wisatawan yang datang ke Masjid Raya Pulau Penyengat dapat dilihat dari tabel di bawah ini :

Tabel I.1 : Perkembangan tingkat kunjungan wisatawan yang datang ke         Masjid Raya Pulau Penyengat Tahun 2010-2013

Tahun
Pengunjung
Jumlah
Dewasa
Anak – anak
2010
143.699
23.177
166.876
2011
106.854
19.646
126.500
2012
95.932
15.612
111.544
2013
67.142
10.697
77.839
Jumlah
413.627
69.132
482.759
Sumber : Humas Masjid Raya Pulau Penyengat

Dari tabel di atas dapat dilihat rata-rata tingkat kunjungan wisatawan yang datang ke Mesjid Raya Pulau penyengat yang mana tingkat kunjungan terus mengalami penurunan. Hal ini dikarenakan kurangnya promosi serta kurangnya fasilitas sarana dan prasarana yang dibangun di kawasan Mesjid raya tersebut. Dalam hal ini sangat dituntut upaya dari pemerintah setempat khususnya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata untuk meningkatkan lagi kunjungan wisatawan. Berbagai upaya untuk menjadikan Masjid Raya Pulau Penyengat sebagai objek wisata unggulan di Provinsi Kepulauan Riau, telah dilakukan oleh pihak pengelola antara lain melakukan promosi baik kepada wisatawan domestik maupun wisatawan internasional. Bermacam promosi yang dilakukan adalah dengan mengadakan iklan di media cetak dan media elektronik.
Dari uraian tersebut di atas maka penulis tertarik untuk mengetahui lebih jauh mengenai promosi yang telah dilakukan oleh dinas terkait terhadap Masjid Raya Sultan Riau Pulau Penyengat dengan mengambil judul UPAYA DINAS KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA MEMPROMOSIKAN MASJID RAYA PULAU PENYENGAT SEBAGAI DAERAH TUJUAN WISATA DI TANJUNG PINANG KEPULAUAN RIAU“.

2.   Perumusan Masalah
                        Berdasarkan dari latar belakang masalah maka penulis merumuskan permasalahan sebagai berikut:“ Bagaimanakah Upaya Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Mempromosikan Masjid Raya Pulau Penyengat Sebagai Daerah Tujuan Wisata Di Tanjung Pinang Kepulauan Riau?.


3.   Pembeberan Masalah

      Berikut penulis sajikan pembeberan masalah ini adalah sebagai berikut:

  1. Bagaimanakah upaya promosi yang dilakukan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan ke kawasan Mesjid Raya di Pulau Penyengat sebagai daerah tujuan wisata di Tanjung Pinang?
  2. Apa saja aspek-aspek yang diperhatikan dalam melakukan pengembangan kawasan Mesjid Raya Pulau Penyengat oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata di Tanjung Pinang?
  3. Apa saja hambatan-hambatan dalam mempromosikan kawasan Mesjid Raya Pulau Penyengat oleh Dinas Kebudayaan  dan Pariwisata di Tanjung Pinang?
  4. Apa saja potensi objek wisata di kawasan Mesjid Raya Pulau Penyengat yang dapat diunggulkan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata di Tanjung Pinang?
  5. Bagaimanakah persepsi wisatawan terhadap promosi wisata di Mesjid Raya Pulau Penyengat oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata di Tanjung Pinang?


4.   Pembatasan Masalah

Adapun pembatasan masalah dari penelitian yang penulis lakukan adalah sebagai berikut:

  1. Bagaimanakah upaya promosi yang dilakukan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan di Mesjid Raya di Pulau Penyengat sebagai daerah tujuan wisata di Tanjung Pinang?
  2. Apa saja potensi objek wisata di Mesjid Raya Pulau Penyengat yang dapat diunggulkan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata di Tanjung Pinang?
  3. Bagaimanakah persepsi wisatawan terhadap promosi wisata di Mesjid Raya di Pulau Penyengat oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata di Tanjung Pinang?


1.5.   Tujuan Penelitian

      Untuk memudahkan penulis, maka tujuan penelitian yang hendak penulis capai adalah sebagai berikut:

  1. Untuk mengetahui upaya promosi yang dilakukan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan  di Mesjid Raya Pulau Penyengat sebagai daerah tujuan wisata di Tanjunag Pinang.
  2. Untuk mengetahui potensi objek wisata di kawasan Mesjid Raya Pulau Penyengat yang dapat diunggulkan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata di Tanjung Pinang.
  3. Untuk mengetahui persepsi wisatawan terhadap promosi wisata di Mesjid Raya Pulau Penyengat oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata di Tanjung Pinang.


2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1.   Tinjauan Tentang Promosi

Menurut Himawan Kartajaya, (2009: 10) strategi adalah konsep pemasaran diantaranya mencakup positioning, segmentasi dan targeting. Strategi dalam pariwisata mencakup yang ditawarkan oleh DTW (Daerah Tujuan Wisata) kepada wisatawan yang real maupun yang potensial. Penawaran dalam pariwisata menunjukkan khasanah atraksi wisata alamiah dan buatan manusia, jasa-jasa maupun barang-barang yang kira-kira akan menarik orang-orang untuk mengunjungi suatu Negara tertentu. Menurut Oka A. Yoeti, (2006:237) yang mengutip pendapat Kotler yang memperkenalkan bauran pemasaran dalam strategi untuk meningkatkan penjualan paket wisata melalui empat-P, yaitu product, price, place dan promotion.
Promosi adalah suatu upaya yang dilakukan untuk menyesuaikan produk pariwisata dengan permintaan wisatawan sehingga produk menjadi lebih menarik. (Happy Marpaung, 2002:103).
Menurut Philip Kotler (2000: 265) mendefinisikan Marketing sebagai suatu proses sosial dan manajerial dan melalui proses tersebut individu dan kelompok memperoleh apa yang mereka butuhkan serta inginkan lewat penciptaan dan pertukaran timbal balik produk-produk dan nilai dengan orang lain. Sementara menurut masyarakat  umum pemasaran hanya merupakan penjualan dan periklanan seperti melalui surat kabar, televisi, selebaran, dan lain sebagainya.
Menurut Salah Wahab ( 1992 : 158 ) Tujuan publikasi dan promosi adalah: publikasi terutama  berkaitan dengan calon pembeli yang masih belum dikenal. Promosi terutama diarahkan pada calon pembeli yang sudah dikenal atau diketahui secara pribadi. Pada setiap bidang tugas ini ada 3 tujuan yang harus di cakup :
1.        Memperkenalkan produk wisata seluas mungkin.
2.        Menyusun produk itu agar sedapat mungkin menarik. Dengan demikian mendorong sebanyak mungkin orang, yang sudah mengenal produk wisata itu, untuk mencobanya.
3.        Menyampaikan isi pesan yang menarik , tanpa harus berbohong.
Bahan promosi banyak berkaitan dengan antara lain :
1)        Iklan
2)        Press release
3)        Pasar wisata
4)        Sales mission
5)        Educational tour
6)        Lobbying


2.2.   Tujuan Promosi Dan Pemasaran

Oka A. Yoeti (2006:292) menyebutkan bahwa tujuan sales promotion yang penting adalah:

a.         Memperkenalkan produk baru
b.        Meningkatkan frekuensi pemakaian
c.         Menembah persediaan agen sebagai distributor
d.        Menarik pelanggan baru
e.         Counter terhadap aktivitas promosi yang dilakukan para pesaing
f.         Mengaktifkan penjualan diwaktu sepi
g.        Membantu kelancaran tugas sales executive melakukan pendekatan kepada pelanggan.
Menurut Basu Swastha (2002: 214) pemasaran adalah suatu system keseluruhan dari kegiatan usaha yang dirancang untuk merencanakan, menetapkan harga, mempromosikan dan mendistribusikan barang, jasa dan ide-ide yang dapat memuaskan keinginan pasar sasaran dalam usaha mencapai tujuan organisasi.
Dan menurut Philip Kotler (2000:378) pengertian bauran pemasaran (Marketing Mix) adalah kombinasi dari empat variabel atau kegiatan yang merupakan inti dari system pemasaran yakni produk, struktur harga, system distribusi dan kegiatan promosi. Keempat unsur yang terdapat dalam kombinasi tersebut saling berhubungan dan saling mempengaruhi. Setiap variabel yang ada masing-masing mempunyai banyak sekali sub variabel, dengan demikian manajer harus dapat memilih kombinasi terbaik sehingga didapat ramuan yang sesuai dengan kondisi lingkungan. Kotler secara ringkas menguraikan masing-masing variabel marketing mix sebagai berikut :
a.         Product (Produk): barang dan atau jasa yang ditawarkan di pasar untuk dikonsumsi oleh konsumen. Pengolahan produk termasuk di dalamnya perencanaan dan pengembangan produk dan atau jasa yang baik untuk dapat dipasarkan oleh perusahaan. Beberapa elemen dari produk tadi antara lain ialah kualitas, bentuk fisik, kemasan, merk dagang, servis, dan lain-lain.
b.        Price (harga): harga menduduki tempat yang penting karena akan menentukan penerimaan perusahaan. Dalam menentukan harus menitikberatkan pada kemampuan pembeli pada harga yang telah ditetapkan. Harga bukan semata-mata untuk menutupi biaya produk dan keuntungan yang diinginkan perusahaan, tetapi yang lebih penting akan menunjukkan persepsi konsumen terhadap suatu produk.
c.         Place (distribusi); merupakan upaya agar produk yang ditawarkan berada pada tempat dan waktu yang tepat sesuai dengan kebutuhan konsumen dengan biaya wajar.
Beberapa unsur yang diperlukan antara lain:
1)   saluran distribusi;
2)   jangkauan distribusi;
3)   persediaan barang;
4)   lokasi dan transportasi
d.        Promotion (promosi). Promosi merupakan salah satu variable yang penting.
Dalam pemasaran, yang merupakan suatu proses yang berlanjut. Adanya promosi dapat membantu pihak-pihak yang terlibat dalam pemasaran untuk memperbaiki hubungan antara pemasar dan konsumen. Variable lain disamping keempat variable marketing mix tersebut diatas sesuai dengan tugas dan fungsi perusahaan daerah dalam melaksanakan bauran pemasaran masih dikenal satu variable, yakni variable pelayanan (service). Variable ini sangat penting karena tanpa pelayanan yang baik konsumen  tidak akan merasa puas.


2.3.   Kawasan Objek Wisata

Menurut undang-undang kepariwisataan republik Indonesia no.9 Tahun 1990 Bab 1 pasal 1, yang dimaksud dengan :

a.       wisata adalah kegiatan perjalanan atau sebagian dari kegiatan tersebut yang dilakukan secara sukarela serta bersifat sementara untuk menikmati objek dan daya tarik wisata.
b.      wisatawan adalah orang yang melakukan kegiatan wisata.
c.       pariwisata adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan wisata, termasuk pengusahaan objek dan daya tarik wisata serta usaha-usaha terkait dibidang itu.
d.      kepariwisataan adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan penyelenggaraan pariwisata.
e.       usaha pariwisata adalah kegiatan yang bertujuan menyelenggarakan jasa pariwisata atau menyediakan atau mengusahakan objek dan daya tarik wisata, usaha sarana pariwisata, dan usaha lain yang terkait dibidang tersebut.
f.       objek dan daya tarik wisata adalah segala sesuatu yang menjadi sasaran wisata.
g.      kawasan pariwisata adalah kawasan dengan luas tertentu yang dibangun atau disediakan untuk memenuhi kebutuhan pariwisata.


Menurut M.A. Desky (2001:23) paket wisata merupakan perpaduan beberapa produk wisata, minimal dua pokok, yang dikemas menjadi satu kesatuan harga yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain.

Menurut Gamal Suwantoro (1997:48-49) produk wisata adalah keseluruhan pelayanan yang diperoleh dan dirasakan atau dinikmati wisatawan semenjak ia meninggalkan  tempat tinggalnya sampai ke daerah tujuan wisata yang telah dipilih nya dan kembali kerumah dimana ia berangkat semula. Produk wisata juga merupakan gabungan dari beberapa komponen, antara lain :

1.      Atraksi Suatu Daerah Tujuan Wisata.
2.      Fasilitas yang tersedia.
3.      Aksesbilitas ke dan dari tujuan wisata.
Menurut Nyoman S. Pendit (1996:135) kebijakan kepariwisataan dapat dirumuskan sebagai berikut: “segala sesuatu tindakan instansi Pemerintah dan badan/organisasi masyarakat yang mempengaruhi kehidupan kepariwisataan itu sendiri.”
Wisata diartikan sebagai bentuk sebuah perjalanan yang direncanakan disusun oleh perusahaan perjalanan dengan waktu seefektif mungkin dengan menggunakan fasilitas-fasilitas pendukung wisata lain, guna membuat peserta tour merasa senang dan puas. (M Kesrul, 2003:3).
Selanjutnya menurut Happy Marpaung, (2002:13) wisatawan adalah orang yang mengadakan perjalanan dari tempat kediamannya tanpa menetap ditempat yang didatanginya, atau hanya untuk sementara waktu tinggal yang didatanginya.
Mereka dikatakan wisatawan karena :
a.       Orang-orang yang sedang mengadakan perjalanan untuk bersenang-senang, untuk keperluan pribadi, kesehatan, dan sebagainya.
b.      Orang-orang yang sedang mengadakan perjalanan untuk maksud menghadiri pertemuan, konferensi, musyawarah, atau didalam hubungan sebagai utusan berbagai badan/organisasi (ilmu pengetahuan, administrasi, diplomatik, olahraga, keagamaan, dan sebagainya).
c.       Orang-orang yang sedang mengadakan perjalanan dengan maksud bisnis.
d.      Pejabat pemerintah dan orang-orang militer beserta keluarganya yang diposkan di suatu   negara lain, maka hal ini dapat digolongkan sebagai wisatawan.
Adapun jenis-jenis wisata rekreasi Menurut Nyoman. S. Pendit (2006:41) adalah sebagai berikut:
a.       Wisata budaya
b.      Wisata kesehatan
c.       Wisata olahraga
d.      Wisata komersial
e.       Wisata industri
f.       Wisata politik
g.      Wisata konvensi
h.      Wisata sosial
i.        Wisata pertanian
j.        Wisata maritim atau bahari
k.      Wisata cagar alam
l.        Wisata buru
m.    Wisata pilgrim (religi)
n.      Wisata bulan madu
o.      Wisata petualangan
           
            Berhasilnya suatu tempat berkembang menjadi daerah tujuan wisata sangat tergantung pada 3 faktor utama yaitu :
1.        Atraksi, dapat dibedakan menjadi :
a.    Tempat, seperti tempat dengan iklim yang baik, pemandangan yang indah atau tempat-tempat bersejarah
b.    Kejadian peristiwa, kongres, pameran atau peristiwa-peristiwa olah raga, festival dan sebagainya
2.        Mudah dicapai (aksesbilitas)
Tempat tersebut dekat jaraknya, atau tersedianya transportasi ke tempat itu secara teratur (sering), murah, aman dan nyaman.
3.        Fasilitas Penunjang (Amenitas)
Tersedianya fasilitas-fasilitas seperti tempat-tempat penginapan, restoran-restoran, tempat hiburan, transportasi lokal yang memungkinkan wisatawan bepergian di tempat itu serta alat-alat komunikasi lainnya.
            Menurut Happy Marpaung (2002:80), objek dan daya tarik wisata dapat dikategorikan kedalam 2 (dua) kategori yaitu :
1.        Objek dan daya tarik wisata alam, yang termasuk objek wisata alam adalah sebagai berikut :
a.    Pantai
     Pantai merupakan salah satu objek dan daya tarik wisata yang banyak diminati. Banyak kawasan wisata yang terkenal di dunia terletak di pantai. Jenis objek dan daya tarik wisata ini erat kaitannya dengan aktivitas seperti berjemur matahari, berenang, selancar, berjalan-jalan di tepi pantai, mengumpul kerang, berperahu, ski air, berfoto, dan lain-lain.
b.    Wisata Bahari
     Termasuk wisata laut, danau dan sungai.
c.    Pegunungan
     Jenis objek dan daya tarik wisata pegunungan khususnya berhubungan dengan kegiatan menikmati pemandangan, mendaki, berkemah dan berfoto. Jenis objek dan daya tarik wisata ini termasuk gunung berapi dan bukit-bukit dengan keunikan tertentu.
d.   Daerah Liar dan Terpencil
     Kadang-kadang disebut juga Primitive areas, dimana pengunjung mencari ketenangan, lingkungan alami dengan pembangunan yang terbatas serta masyarakat tradisional.
Ciri-ciri dari daya tarik wisata ini antara lain :
1.    Dapat memberikan privacy bagi pengunjung
2.    Bebas dari keramaian lalu lintas
3.    Pengembangan kawasan dan daerah sekitar yang tradisional
4.    Tersedianya jalan setapak yang memadai
5.    Relatif dekat dengan masyarakat sekitar
6.    Perlindungan terhadap benteng alam dan lingkungan


e.    Taman dan Daerah Konservasi

     Flora dan fauna yang unik dan menarik dapat menjadi suatu objek dan daya tarik wisata yang penting, yang harus dilindungi sebagai daerah konservasi seperti taman nasional, taman regional suaka alam, suaka margasatwa ataupun sebagai daerah liar yang diawasi.

f.      Health Resort
     Biasanya pengembangan health resort berhubungan dengan lingkungan alam, pemandian air panas atau spa dengan air belerang maupun air mineral merupakan salah satu jenis wisata kesehatan yang sudah berkembang sejak zaman romawi dan sampai saat ini menjadi kegiatan yang menarik.


2.        Objek dan daya tarik wisata sosial budaya, yang termasuk objek wisata sosial budaya adalah :

a.    Peninggalan Sejarah Kepurbakalaan dan Monumen

Termasuk golongan budaya, monumen nasional, gedung bersejarah, kota, desa, bangunan keagamaan seperti Gereja, kuil, candi, puri, Masjid serta tempat-tempat bersejarah lainnya seperti penelitian bawah air, misalnya kapal karam atau tenggelam, industry archeology, taman-taman bersejarah.
b.    Museum
     Jenis objek dan daya tarik wisata ini berhubungan dengan aspek alam dan aspek kebudayaan di suatu kawasan atau daerah tertentu. Museum dapat dikembangkan berdasarkan pada temanya, antara lain museum arkeologi, sejarah, etnologi, sejarah alam, seni dan kerajinan, ilmu pengetahuan, teknologi dan industri.
c.    Pola Kehidupan
     Pola kehidupan dan tradisi, termasuk adat istiadat, pakaian upacara dan kepercayaan dari suatu suku bangsa tertentu.
d.   Desa Wisata
     Berhubungan dengan wisatawan atau pengunjung yang tinggal di suatu desa tradisional atau dekat dengan desa tradisional, atau hanya untuk kunjungan singgah dimana lokasi desa wisata ini biasanya terletak di daerah terpencil. Wisatawan atau pengunjung tidak hanya menyaksikan kebudayaan tradisiona, tetapi biasanya ikut langsung berpartisipasi dalam kegiatan masyarakat setempat.
e.    Wisata Keagamaan, Etnis dan Nostalgia
     Jenis kegiatan wisata keagamaan, etnis dan nostalgia erat kaitannya dengan wisatawan atau pengunjung yang memiliki latar belakang budaya, agama, etnis, dan sejarah yang sama atau hal-hal yang pernah berhubungan dengan masa lalunya.


Adapun tujuan penyelenggaraan kepariwisataan menurut Sri Wulandari (2001:23) adalah untuk :

  1. Memperkenalkan, mendayagunakan, melestarikan dan meningkatkan mutu objek dan daya tarik wisata
  2. Memupuk rasa cinta tanah air dan meningkatkan persahabatan antar bangsa
  3. Memperluas dan meratakan kesempatan berusaha dan lapangan kerja
  4. Meningkatkan pendapatan nasional dalam rangka meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat
  5. Mendorong pendayagunaan produksi nasional

Menurut Salah Wahab (1992:28), pemasaran wisata adalah proses manajemen dimana organisasi pariwisata nasional dan/atau badan-badan usaha wisata dapat mengidentifikasi wisata pilihannya baik yang aktual maupun potensial, dapat berkomuniukasi dengan mereka untuk meyakinkan dan mempengaruhi kehendak, kebutuhan, motivasi, kesukaan dan hal yang tidak disukai, serta merumuskan dan menyesuaikan produk wisata mereka secara tepat, dengan maksud mencapai kepuasan optimal wisatawan sehingga dengan begitu mereka dapat meraih saran-sarannya. 

3.        METODOLOGI PENELITIAN

3.1.   Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini penulis lakukan di Mesjid Raya dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Tanjung Pinang di Jl. Merdeka No. 5 Tanjung Pinang – Provinsi Kepulauan Riau - Indonesia, Telp (0771) 21284 Alamat E-Mail : www.visittanjungpinang.com,  yang dilakukan pada bulan Januari - Juni 2013.

3.2.   Populasi dan Sampel
a.    Populasi
Yang menjadi populasi dalam penelitian ini melibatkan Kepala Dinas, staff yang ada di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata khususnya Divisi Pengembangan Kepariwisataan, pengurus Mesjid Raya dan wisatawan yang datang ke kawasan Mesjid Raya Pulau Penyengat.
b.   Sampel
Yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah:
1.             1 orang kepala Dinas Pariwisata
2.             6 orang divisi Pengembangan Pariwisata
3.             1 orang personalia Dinas Pariwisata
4.             1 orang pengurus Mesjid Raya
5.             30 orang wisatawan

3.3.  Teknik Pengumpulan Data
a.       Wawancara
Dilakukan kepada staff Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Tanjung Pinang Provinsi Kepulauan Riau serta bagian personalia guna mendapatkan data tentang upaya promosi kawasan Mesjid Raya Pulau Penyengat yang dilakukan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Tanjung Pinang.
b.   Observasi
Merupakan pengamatan langsung yang dilaksanakan selama penelitian secara berkesinambungan yaitu pada pagi atau siang atau sore hari untuk melihat langsung cara kerja staff Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, cara penyusunan anggaran wisata dan penerapan pelaksanaan upaya promosi yang dilakukan oleh dinas.
c.    Angket
Penulis melakukan penyebaran daftar pertanyaan yang telah tersusun kepada responden untuk memperoleh data mengenai upaya promosi dan potensi serta tanggapan wisatawan terhadap kawasan Mesjid Raya Pulau Penyengat.
d.      Study Kepustakaan
Yaitu metode pengumpulan data dengan membaca buku-buku yang ada hubungannya dengan penelitian yang penulis lakukan.

3.4.   Jenis Data
a.       Data Primer
Yaitu  data yang diperoleh dari pimpinan atau staff serta wisatawan ditempat penulis mengadakan penelitian.
b.       Data Sekunder
Yaitu data yang di dapat dari literatur dan sumber kepustakaan yang ada kaitannya dengan penelitian yang penulis lakukan serta hal-hal yang bermanfaat lainnya bagi penelitian.

3.5.   Analisis Data
Data yang diperoleh dari hasil observasi dan wawancara dipilah-pilah dan diklasifikasikan menurut jenisnya dan kemudian dianalisis serta diolah dengan menggunakan metode tabulasi terhadap data yang terkumpul, kemudian melakukan analisis untuk mendapatkan gambaran dan disimpulkan secara nyata yang sesuai dengan tujuan penelitian ini. 

4.        PEMBAHASAN DAN HASIL PENELITIAN

4.1. Upaya promosi yang dilakukan dalam meningkatkan kunjungan   wisatawan ke kawasan Mesjid Raya di Pulau Penyengat oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata di Tanjung Pinang


Promosi daerah tujuan wisata merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan dan menjadi bagian penting bagi pengembangan pariwisata suatu kota.  Promosi wisata di Kota Tanjung Pinang khususnya Pulau Penyengat sangat gencar dilakukan oleh Dinas Kebudayaan  dan Pariwisata Kota Tanjung Pinang. Mengingat dunia pariwisata merupakan produk unggulan dan penyumbang terbanyak dari pendapatan asli daerah (PAD) Kota Tanjung Pinang, maka kegiatan promosi pariwisata Kota Tanjung Pinang masuk dalam agenda kerja dari Pemerintah Kota Tanjung Pinang. Selain dari Pemerintah Kota Tanjung Pinang, kegiatan promosi wisata juga dilakukan para pengelola usaha pariwisata seperti: hotel, restoran dan pengelola objek wisata.
Mesjid Raya Pulau Penyengat merupakan salah satu andalan dalam mendukung wisata religi, sejarah dan budaya di Provinsi Kepulauan Riau mengingat banyaknya peninggalan situs-situs di pulau ini yang bisa menjadi objek unggulan bagi wisatawan domestik dan wisatawan internasional. Maka ada beberapa upaya yang dilakukan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Tanjung Pinang dalam mempromosikan Pulau Penyengat yaitu:

a.         Disediakannya Pusat Informasi Pariwisata
Sejauh ini kegiatan promosi wisata yang dilakukan di Kota Tanjung Pinang baru terbatas pada penyediaan informasi berupa brosur, stiker dan pamflet yang  disebarluaskan di lokasi masing-masing objek wisata. Pelaksanaan promosi wisata seperti  ini tentu saja belum efektif karena terbatas pada masing-masing objek wisata dan belum menggambarkan potensi wisata secara keseluruhan. Pusat promosi wisata di Kota Tanjung Pinang yang dikelola oleh Pemerintah Kota Tanjung Pinang yang bernama Pusat Informasi Pariwisata yang lokasinya terletak di Jalan Merdeka serta berdampingan dengan Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjung Pinang.

b.        Diadakannya Festival Pulau Penyengat
Festival yang digagas Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif ini bisa menjadi momentum untuk mempromosikan Penyengat sebagai pusat kebudayaan dan bahasa Melayu di Indonesia. Acara Festival Pulau Penyengat ini di selenggarakan setiap akhir tahun. Salah satu alasan menyelenggarakan Festival Pulau Penyengat ini adalah karena keunikan pulau tersebut atas berbagai peninggalan sejarah peradaban Melayu pada masa kerajaan Riau – Lingga.  Kementerian menargetkan pada 2012, festival ini diselenggarakan lebih besar lagi dengan melibatkan peserta dari negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia yang juga memiliki sejarah Melayu. Kegiatannya pun dibuat lebih banyak sehingga turis dari daerah lain bisa turut hadir menyemarakkan suasana. 
Untuk mendukung rencana tersebut, pemerintah provinsi Kepulauan Riau telah mengagendakan serangkaian pembangunan infrastruktur pendukung di Penyengat seperti penyediaan listrik, air bersih dan jalan akses menuju situs sejarah. Perumahan di pinggir laut akan direhabilitasi agar terlihat lebih semarak dari kejauhan. Dan akan membuat Penyengat lebih terang benderang pada malam hari. Pemerinta provinsi juga akan merehabilitasi beberapa situs yang sudah rusak agar semakin menarik para pelancong yang berkunjung ke pulau tersebut. Rasanya tidak berlebihan jika perintah provinsi Kepulauan Riau berharap Penyengat bisa menyedot wisatawan yang ingin menyaksikan bukti sejarah kebesaran kerajaan Melayu di Kepulauan Riau.
Festival Pulau Penyengat sangat baik untuk dilaksanakan apabila didukung semua pihak terkait baik Dinas Kebudayaan dan Pariwisata kota Tanjung Pinang dan masyarakat pulau penyengat sendiri..

c.         Diadakannya Kerjasama dengan Travel Biro
Dapat diketahui bahwa travel biro memiliki peran yang strategis dalam mengembangan pariwisata kota Tanjung Pinang khususnya Pulau Penyengat. Dalam rangka pembangunan kota Tanjung Pinang di sektor pariwisata diperlukan keterlibatan biro perjalanan untuk menentukan pasar wisata yang tepat agar dapat dicapai hasil yang optimal. Dengan melihat peran travel biro yang dominan dalam menyampaikan informasi wisata di kota Tanjung Pinang, dan telah dapat dilihat keberhasilannya, maka pemerintah hendaknya lebih meningkatkan kerjasamanya kepada travel biro. Bentuk kerjasama yang dapat dilakukan dapat berbentuk penyusunan kalender even dan penciptaan daya tarik wisata yang lebih bersifat dinamis sesuai dengan perkembangan minat pasar. Dalam hal ini biro perjalanan lebih memiliki pengalaman lapangan dan bentuk kerjasama praktis dengan travel biro di berbagai daerah. Manfaat yang diperoleh antara lain:
1.    Pemerintah dapat lebih menghemat biaya promosi, namun target yang dicapai akan lebih tepat (manfaat efesiensi dan efektivitas).
2.    Penyampaian citra pariwisata bersifat positif.
3.    Feed back informasi dari biro perjalanan kepada pemerintah lebih bersifat up-date terkait dengan perkembangan minat wisatawan.

d.        Memperbanyak Iklan tentang Pulau Penyengat
Komponen lainnya di bidang promosi wisata ini adalah memperbanyak brosur atau mengiklankan di media massa tentang tempat dan objek wisata yang menarik dikunjungi di kota Tanjung Pinang khususnya di Pulau Penyengat. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk lebih memperkenalkan tempat dan objek wisata yang layak dikunjungi oleh wisatawan yang datang ke kota ini. Dengan adanya kegiatan promosi wisata melalui brosur dan iklan di media massa maka peningkatan kegiatan promosi wisata akan lebih efisien dan efektif karena mudah didapatkan dan didengar oleh wisatawan sehingga menimbulkan keinginan untuk datang berkunjung ke kota Tanjung Pinang khususnya Pulau Penyengat. Upaya lainnya dari kegiatan promosi ini adalah memperbanyak baleho atau papan iklan di pusat kota dan tempat-tempat tertentu yang ramai dikunjungi. Pemasangan baleho ini merupakan salah satu faktor yang relevan dalam memperkenalkan tempat dan objek wisata sehingga lebih dikenal oleh wisatawan.

4.2.   Potensi objek wisata di kawasan Mesjid Raya Pulau Penyengat yang      dapat diunggulkan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata di Tanjung Pinang

Banyaknya wisatawan yang berlibur untuk berkunjung di Kepulauan Riau juga sangat membanggakan bagi provinsi yang terletak di pulau Sumatera ini.  Banyak tempat menarik dari obyek wisata Indonesia yang ada di provinsi Kepulauan Riau seperti wisata religi, budaya dan sejarah. Pulau Penyengat juga merupakan salah satu obyek wisata di Kepulauan Riau, salah satu objek yang bisa kita lihat adalah Mesjid Raya Pulau Penyengat. Adapun potensi yang di miliki berupa keunikan-keunikan pada Mesjid Raya Pulau Penyengat adalah sebagai berikut :
1.      Salah satu mesjid yang menggunakan putih teloh sebagai bahan campuran pada pembangunannya.
2.      Mesjid pertama yang menggunakan kubah pada atapnya di daerah Kepulauan Riau.
3.      Masuknya ajaran agama islam pertama kali di Kepulauan Riau.
4.      Mesjid yang tercatat dalam sejarah Indonesia sebagai salah satu peninggalan bersejarah kerajaan Riau-Lingga yang masih ada.
5.      Mesjid Raya Pulau Penyngat terdapat 13 kubah dan 4 menara berujung runcing setinggi 19 meter, jika jumlah kubah dan menara menunjukkan bilangan rakaat sholat dalam 1 hari.
6.      Didalam Mesjid Raya Pulau Penyengat terdapat buku Tuhfat al-Nafis yang di tulis oleh Raja Ali Haji sebagai pujangga kerajaan Riau-Lingga.
7.      Di halaman Mesjid Raya Pulau Penyengat terdapat dua buah rumah sotoh (tempat pertemuan) yang di peruntukkan bagi musafir dan tempat munyawarah, dan ada lagi dua balai tempat untuk menyediakan hidangan ketika kenduri atau untuk berbuka puasa yang di sediakan pengurus Mesjid Raya Pulau Penyengat.


4.3.     Persepsi Wisatawan Terhadap Objek Wisata Mesjid Raya Pulau Penyengat Sebagai Objek Wisata oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata di Tanjung Pinang



Motivasi kunjungan wisatawan baik lokal maupun wisatawan mancanegara ke Pulau Penyengat, khususnya Singapura dan Malaysia erat kaitannya  dengan keberadaan objek-objek wisata sejarah dan sosial budaya yang terdapat di kota ini. Dengan demikian motif kunjungan mereka termasuk ke dalam kategori menikmati dan mengagumi kekayaan sejarah dan budaya di Pulau Penyengat. Disisi lain, banyak juga wisatawan tersebut yang datang karena adanya hubungan kekerabatan (etnis Melayu) dengan sanak saudara yang ada di Pulau Penyengat. Berikut ini penulis sajikan tanggapan wisatawan yang datang ke Pulau Penyengat berdasarkan:

a.         Tanggapan Terhadap Atraksi Wisata
Beberapa atraksi wisata di kawasan Mesjid Raya Pulau Penyengat seperti :
a.         Pertunjukan pembacaan syair gurindam 12.
b.        Perlombaan seni tari tradisional oleh sanggar tari yang ada di Provinsi Kepulauan Riau.
c.         Perlombaan takbir di Mesjid Raya Pulau Penyengat pada bulan Ramadhan.

Berikut ini penulis sajikan tanggapan wisatawan terhadap Atraksi Wisata yang ada di Pulau Penyengat.

Tabel4.1: Tanggapan Wisatawan Terhadap Atraksi Wisata di Pulau Penyengat
No
Tanggapan responden
Frekuensi
Persentase
1.
Sangat Baik
5
16,7%
2.
Baik
9
30%
3.
Cukup Baik
10
33,3%
4.
Tidak Baik
6
20%

Jumlah
30
100%
Sumber : Data Olahan Penelitian
Rata-rata wisatawan menilai bahwa atraksi wisata yang ditampilkan tergolong ke dalam hal Baik  yaitu 9 orang 30% tetapi masih ada yang menilai bahwa atraksi wisata tergolong ke dalam hal Tidak Baik  yaitu 6 orang 20%. Adapun alasan para wisatawan tersebut menilai hal demikian adalah:
1.        Kondisi atraksi wisata yang ada di Pulau Penyengat belum mampu menarik minat wisatawan untuk melihatnya. Permintaan pasar terbanyak terhadap atraksi wisata adalah adat istiadat dikarenakan sangat kentalnya budaya wisatawan dari Malaysia dengan budaya masyarakat Melayu di Pulau Penyengat.
2.        Sangat dirasakan oleh wisatawan bahwa minim sekali di Pulau Penyengat pertunjukkan kesenian tradisional (Melayu).
3.        Atraksi yang paling disukai wisatawan adalah bangunan bersejarah, maka diperlukan pengelolaan bangunan-bangunann bersejarah yang ada di Pulau Penyengat, sekaligus dalam rangka melestarikan peninggalan budaya di Pulau Penyengat.

b.        Terhadap Pengelolaan Wisata
Berikut ini penulis sajikan tanggapan wisatawan terhadap pengelolaan wisata di Pulau Penyengat.

Tabel 4.2 : Tanggapan Wisatawan Terhadap Pengelolaan Wisata di Kota Tanjung Pinang Khususnya Pulau Penyengat

No
Tanggapan responden
Frekuensi
Persentase
1.
Sangat Baik
4
13,3%
2.
Baik
6
20%
3.
Cukup Baik
15
50%
4.
Tidak Baik
5
16,7%

Jumlah
30
100%
Sumber : Data Olahan Penelitian
            Dari data diatas dapat dilihat mengenai tanggapan wisatawan terhadap pengelolaan wisata rata-rata menjawab cukup baik yaitu 15 orang 50%. Namun masih adanya wisatawan yang menjawab Tidak Baik yaitu 5 orang 16,7% dikarenakan beberapa alasan sebagai berikut ini:
1.        Sangat dirasakan bahwa fasilitas wisata yang ada di Pulau Penyengat kurang memadai dan pada akhirnya mengurangi motivasi wisatawan untuk datang berkunjung.
2.         Kurangnya fasilitas yang memadai, ruangan dan gedung, serta belum tersedianya pusat perbelanjaan dan hiburan yang berskala Internasional.
3.         Menyediakan dan mengembangkan berbagai sarana penunjang pariwisata yang dapat memberikan kenyamanan kepada wisatawan yang berkunjung ke berbagai obyek dan daya tarik wisata di Pulau Penyengat.
Dalam kerangka pengelolaan obyek dan daya tarik wisata Pulau Penyengat, diperlukan beberapa usaha ekstra untuk menjaga agar aset budaya dan pariwisata tersebut tetap lestari meskipun pemanfaantannya lebih berorientasi ekonomis. Usaha pengelolaan tersebut antara lain:
a.         Revitalisasi kawasan pariwisata dan obyek-obyek wisata budaya dan sejarah, terutama Pulau Penyengat.
b.        Mengembangkan dan meningkatkan jenis produk pariwisata budaya dan sejarah yang memiliki keunggulan kompetitif sesuai dengan kondisi Pulau Penyengat sehingga lebih menarik lagi bagi para wisatawan.
c.         Pemberdayaan masyarakat dalam merawat obyek-obyek bersejarah.
d.        Membentuk dan membina kelompok sadar wisata disetiap objek wisata yang memiliki potensi untuk dikembangkan.
c.         Terhadap Akomodasi yang tersedia

Akomodasi merupakan salah satu pendukung kepariwisataan yang sangat penting selain fasilitas-fasilitas pendukung pariwisata lainnya. Ketersediaan pelayanan akomodasi di daerah kawasan wisata merupakan syarat mutlak karena berpengaruh terhadap perkembangan pariwisata. Pulau Penyengat sebagai salah satu daerah tujuan wisata di Provinsi Kepulauan Riau memiliki berbagai jenis wisata, seperti wisata sejarah, budaya dan religi telah menarik minat wisatawan mancanegara untuk datang berkunjung. Kedatangan wisatawan mancanegara tersebut karena adanya fasilitas penginapan (hotel, motel, wisma, maupun losmen), travel biro, dan tempat-tempat hiburan. Akomodasi mutlak harus tersedia untuk mendukung kepariwisataan di sebuah daerah yang memiliki objek wisata yang dapat diunggulkan sehingga wisatawan yang datang akan meningkat. Secara prinsipil komponen akomodasi di kota Tanjung Pinang sebagai daerah tujuan wisata sudah memadai.  Namun secara kenyataannya di Pulau Penyengat akomodasi yang tersedia hanyalah rumah masyarakat setempat, sehingga kurangnya fasilitas akomodasi hotel maupun penginapan lainnya.
Berikut ini penulis sajikan tanggapan wisatawan terhadap akomodasi yang tersedia di kota Tanjung Pinang khususnya Pulau Penyengat.

Tabel 4.3 : Tanggapan Wisatawan Terhadap Akomodasi yang Tersedia di Kota Tanjung Pinang khususnya Pulau Penyengat

No
Indikator
Frekuensi
Persentase
1.
Sangat Baik
5
16,7%
2.
Baik
7
23,3%
3.
Cukup Baik
11
36,7%
4.
Tidak Baik
7
23,3%

Jumlah
30
100%
Sumber : Data Olahan Penelitian
            Dari penilaian wisatawan diatas dapat dilihat bahwa rata-rata wisatawan menjawab cukup baik yaitu 11 orang 36,7%. Namun masih ada wisatawan yang menjawab tidak baik yaitu 7 orang  23,3%. Alasan wisatawan menjawab tidak baik atas adalah dikarenakan minimnya akomodasi yang tersedia di Pulau Penyengat dan kurangnya fasilitas pendukung akomodasi di hotel maupun penginapan lainnya. Sehingga para wisatawan tidak memiliki kesempatan untuk berlama-lama menikmati wisata di Pulau Penyengat. Fasilitas pendukung akomodasi seperti restoran dan tempat hiburan tradisional masih minim sekali, hanya disaat event-event tertentu saja sedangkan kunjungan wisatawan dilakukan sepanjang tahun bagi wisatawan yang tidak mengetahui jadwal event tersebut berlangsung.

d.        Terhadap Transportasi Yang tersedia
Berikut penulis sajikan tanggapan wisatawan terhadap transportasi yang tersedia di kota Tanjung Pinang khususnya Pulau Penyengat.
Tabel 4.4 : Tanggapan Wisatawan Terhadap Transportasi yang Tersedia di Kota Tanjung Pinang Khususnya Pulau Penyengat

No
Tanggapan responden
Frekuensi
Persentase
1.
Sangat Baik
4
13,3%
2.
Baik
5
16,7%
3.
Cukup Baik
12
40%
4.
Tidak Baik
9
30%

Jumlah
30
100%
Sumber : Data Olahan Penelitian
Data diatas menunjukkan bahwa tanggapan wisatawan terhadap transportasi yang tersedia rata-rata menjawab tidak baik yaitu 9 orang 30% alasan wisatawan menjawab demikian dikarenakan beberapa hal yaitu:
1.         Untuk mengunjungi Pulau Penyengat transportasi yang tersedia hanyalah menggunakan transportasi laut yaitu kapal (Pompong). Perjalanan laut ditempuh lebih kurang 15 menit dari kota Tanjung Pinang. Adapun Pelabuhan yang digunakan untuk berlabuh ke Pulau Penyengat ada 2 yang mana terletak pada jalan pelabuhan 1 dan Jln DT. Ibrahim (pelabuhan ke-2). Sedangkan saat ini pintu masuk ke kota Tanjung Pinang praktis hanya dapat ditempuh melalui transportasi laut sebagai jalur angkutan yang paling dominan. Untuk transportasi udara sudah dapat digunakan  bandara Kijang hanya sebatas rute Tanjung Pinang – Jakarta, untuk rute yang lain masih di pertimbangkan oleh maskapai penerbangan yang ada. Penambahan angkutan udara diperlukan guna meningkatkan standar pelayanan wisata sehingga memudahkan wisatawan untuk mendatangi tempat dan objek wisata yang hendak dituju seperti Pulau penyengat.
2.         Transportasi yang digunakan untuk mengelilingi situs yang ada di Pulau Penyengat ada 3 yaitu, motor sewaan (Rp 25.000 /1 jam), ojek motor (Rp 25.000/1 jam), becak motor (Rp 25.000 /1 jam) dan sepeda sewaan (Rp.10.000/1 jam)
e.         Terhadap Iklan dan Promosi tentang Pulau Penyengat yang dilakukan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata kota Tanjung Pinang
Untuk memperkenalkan suatu daerah tujuan wisata maka sangat diperlukan adanya kegiatan promosi. Keadaan yang terlihat di Pulau Penyengat pada saat ini, kegiatan promosi tempat dan objek wisata gaungnya kurang terdengar oleh wisatawan. Kebanyakan wisatawan mendapatkan informasi tentang Pulau Penyengat dari wisatawan lainnya yang telah datang berkunjung.
Berikut penulis sajikan tanggapan wisatawan terhadap Iklan dan Promosi tentang Pulau Penyengat yang dilakukan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata kota Tanjung Pinang.
Tabel 4.5 : Tanggapan Wisatawan Terhadap Iklan dan Promosi tentang  Pulau Penyengat yang dilakukan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjung Pinang

No
Tanggapan responden
Frekuensi
Persentase
1.
Sangat Baik
4
13%
2.
Baik
5
17%
3.
Cukup Baik
11
37%
4.
Tidak Baik
10
33%

Jumlah
30
100%
Sumber : Data Olahan Penelitian
Data diatas menunjukkan bahwa tanggapan wisatawan terhadap Iklan dan Promosi tentang Pulau Penyengat yang dilakukan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata kota Tanjung Pinang rata-rata menjawab tidak baik yaitu 10 orang 33% alasan wisatawan menjawab demikian dikarenakan beberapa hal yaitu:
1.      Iklan dan promosi yang telah dilakukan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjung Pinang Provinsi Kepulauan Riau sepertinya salah sasaran, hal ini ditunjukkan oleh jumlah wisatawan yang menjawab tidak baik sebanyak 10 orang
Para wisatawan merasa kesulitan untuk mendapatkan informasi tentang objek wisata yang dikunjungi karena tiadanya pemandu wisata professional di tempat dan objek wisata.

5.KESIMPULAN DAN SARAN

5.1.   KESIMPULAN
1.        Mesjid Raya Pulau Penyengat merupakan salah satu andalan dalam mendukung wisata religi dan wisata sejarah kota Tanjung Pinang mengingat banyaknya peninggalan situs sejarah di pulau ini yang bisa menjadi objek unggulan bagi wisatawan domestic dan wisatawan internasional. Dan ada pun upaya promosi yang di lakukan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata dalam meningkatkan jumlah kunjungan seperti : tersedianya pusat informasi pariwisata, diadakannya festival pulau penyengat, diadakan kerjasama dengan travel biro dan memperbanyak iklan tentang pulau penyengat. Dan keberadaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata saat ini dapat di katakan baik. Dengan berbagai promosi yang dilakukan oleh Dinas terkait sehingga kedepan dapat meningkatkan kunjungan.
2.        Potensi wisata yang berkembang di Pulau Penyengat saat ini adalah wisata religi dan wisata sejarah dan budaya. Potensi objek wisata di kawasan Mesjid Raya Pulau Penyengat yang memeliki keunikan adalah antara lain : bahan pembangunannya yang di campur dengan putih telur, salah satu peninggalan kerajaan Riau- Lingga yang masih ada, sejarah masuknya agama islam pertama kali ke kepulauan riau dan dengan 13 kubah dan 4 menara yang ada di Mesjid Raya Pulau Penyengat jika dijumlahkan menunjukkan bilangan rakaat shalat dalam satu hari. Dan disekitar Mesjid Raya juga terdapat komplek makam-makam raja dan makam Engku Putri Hamidah sebagai pemilik Pulau Penyengat. Obyek-obyek wisata ini menjadi favorit kunjungan para wisatawan domestik dan wisatawan internasional.
3.        Persepsi masyarakat mengenai Mesjid Raya Pulau Penyengat sebagai objek wisata relegi dan wisata sejarah dan budaya di kota Tanjung Pinang. Di sisi lain, banyak juga wisatawan tersebut yang datang karena adanya hubungan kekerabatan (etnis Melayu) dengan sanak saudara yang ada di kota Tanjung Pinang. Rata-rata tanggapan wisatawan adalah cukup baik, hal ini di karenakan masih banyak yang perlu di benahi dan di lakukan dalam promosi Mesjid Raya Pulau Penyengat.

5.2.   SARAN
            Saran-saran yang dapat penulis lakukan untuk mendukung kesimpulan yang penulis ambil adalah:
1.        Disarankan kepada pemerintah kota Tanjung Pinang khususnya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata dalam penggunaan promosi melalui website lebih ditingkatkan dikarenakan websites tersebut sering mengalami gangguan sehingga wisatawan sedikit sulit mendapat informasi tentang objek-objek yang akan di kunjungi oleh wisatawan domestic dan wisatawan internasional.
2.        Kedepannya diharapkan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata kota Tanjung Pinang menjadikan Mesjid Raya Pulau Penyengat sebagai wisata minat khusus dalam usaha meningkatkan jumlah pengunjung khususnya yang beragama islam ke Mesjid Raya Pulau Penyengat.  
3. Dalam rangka meningkatkan promosi pariwisata dapat dilakukan dengan langkah-langkah mengembangkan koordinasi dengan stakeholder terkait seperti travel biro, masyarakat setempat ataupun investor swasta lainnya. Dalam meningkatkan promosi perlu disusun program-program pemasaran pariwisata secara terpadu dan dirancang bersama antar seluruh elemen pemangku kepentingan tersebut. Meningkatkan usaha promosi obyek dan daya tarik wisata Mesjid Raya Pulau Penyengat untuk menciptakan citra daerah tujuan wisata dalam hal ini wisata sejarah dan budaya sebagai salah satu daerah tujuan wisata yang potensial. Sehingga menyebabkan naiknya tingkat kunjungan wisatawan.



DAFTAR PUSTAKA


Basu Swastha, 1995 Promotion, Pradnya Paramitha, Jakarta.
                        ,2002, Management Pemasaran Moderen, Pradnya Paramitha, Jakarta.
Brosur, 2011, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Tanjung Pinang.
Dahleni, 2006, Potensi Pengembangan Objek Wisata Sejarah Istana Asserayah Hasyimiah terhadap Kunjungan Wisatawan di Kota Siak, Skripsi, Sekolah Tinggi Ilmu Pariwisata Riau, Pekanbaru-Riau.
Damardjati. RS, 2001, Istilah-Istilah Dunia Pariwisata, Pradnya Paramita, Jakarta.
Desky M. A, 2001, Pengantar Bisnis Biro Perjalanan Wisata, Adicitra Karya Nusa,     Yogyakarta.
Direktorat Jendral, 1997, Pariwisata Indonesia, Direktorat Jendral Pariwisata, Jakarta.
Gamal Suwantoro, 1997, Dasar-Dasar Pariwisata, Andi Yogyakarta.
Garis Besar Haluan Negara, 1993, Republik Indonesia.
Happy Marpaung, Drs, SH, MH, 2002, Gejala Pariwisata, Alfabetha Bandung.
Himawan Kertajaya 2009, Manajemen Perjalanan Wisata, Adicitra Karya Nusa,   Yogyakarta.
Kesrul M, 2003, Penyelenggaraan Operasi Perjalanan Wisata, PT Grasindo.
Kotler. Philip, 2000, Manajemen Pemasaran, Penerjemah Adi Zakaria Afif, Jakarta, Lembaga Penerbit FE UI.
­                          , 2001, Pemandu Wisata ( Tour Guiding ), Graha Ilmu, Jakarta.
Nyoman S Pendit, 1996, Ilmu usaha Dan Perjalanan Wisata, Pradnya  Paramitha,  Jakarta.
                            , 2006, Ilmu Pariwisata, PT Pradnya Paramita, Jakarta.

Oka A Yoeti, 2006, Pemasaran Pariwisata Terpadu, Angkasa Bandung.

Rahmadani Rizai, 2011, Peranan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata dalam Pemilihan Bujang dan Dara sebagai Duta Wisata untuk Mempromosikan Kepariwisataan di Provinsi Riau, Skripsi, Sekolah Tinggi Ilmu Pariwisata Riau, Pekanbaru-Riau.
Ratika Yana Wardani, 2013, strategi pengembangan pariwisata kota tanjung pinang, naskah publikasi, universitas maritim raja ali haji, kepulauan Riau
Salah Wahab, 1992, Pemasaran pariwisata, PT Pradnya Paramita, Jakarta.
Sri Wulandari, 2001, Pariwisata dan Pembangunan Ekonomi, Upada Sastra, Denpasar.
Stanton, 1996, Pengembangan Daya Tarik Wisata, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta.
Team Penyusun Materi, Metodologi Penelitian, Program Diploma III, IV, Sekolah Tinggi Pariwisata Riau,Pekanbaru.
Undang-undang Kepariwisataan Republik Indonesia, Ilmu Pariwisata, 1990, Jakarta.
Yulianty Meity, 2005, Partisipasi Masyarakat Dalam Memelihara Benda Cagar Budaya Di Pulau Penyengat Sebagai Upaya Pelestarian Warisan Budaya Melayu, Tesis, Universitas Diponegoro, Semarang.